Ilmuwan Klaim Temukan “Lokasi Tuhan” di Alam Semesta, Begini Penjelasan Jaraknya dari Bumi
Jakarta, 12 Februari 2026 — Seorang ilmuwan menyampaikan klaim kontroversial mengenai keberadaan “lokasi Tuhan” di alam semesta yang jauh dari jangkauan pengamatan manusia. Pernyataan ini menarik perhatian luas sejak dipublikasikan dan memicu diskusi di kalangan sains maupun masyarakat umum.
Dr. Michael Guillen, mantan fisikawan dari Universitas Harvard, menyatakan bahwa ia telah “mengidentifikasi” sebuah titik fisik yang ia klaim sebagai lokasi Tuhan di alam semesta. Guillen menyebut angka jarak yang luar biasa besar antara titik tersebut dan Bumi, mencapai sekitar 439 sekstiliun kilometer. Angka ini setara dengan 439 miliar triliun kilometer, sebuah rentang yang jauh melampaui batas ruang yang bisa dicapai atau dikenali oleh instrumen pengamatan saat ini.
Konsep Cakrawala Kosmik dalam Klaim
Menurut Guillen, klaimnya ini didasarkan pada konsep fisika kosmik yang dikenal sebagai cakrawala kosmik, yaitu batas terjauh dari alam semesta teramati di mana galaksi-galaksi bergerak menjauh dari Bumi dengan kecepatan yang nyaris menyamai kecepatan cahaya.
Ia menjelaskan bahwa di luar cakrawala kosmik, ruang di alam semesta terus mengembang sedemikian cepat sehingga cahaya dari wilayah tersebut tidak akan pernah mencapai pengamat di Bumi. Dalam pandangannya, wilayah yang secara teori berada di luar batas pengamatan ini bisa dianggap sebagai “lokasi” yang secara simbolis dipahami sebagai tempat Tuhan berada — walaupun tidak terukur atau dapat diuji dengan metode ilmiah saat ini.
Guillen menekankan bahwa titik yang ia tunjuk bukan berarti Tuhan secara harfiah tinggal di dalam sebuah koordinat ruang fisik seperti planet atau bintang, melainkan ia menggunakan penggambaran tersebut sebagai model teoretis yang menggabungkan konsep fisika dengan pandangan teologis tentang keberadaan Tuhan.
Tanggapan Komunitas Ilmiah dan Teolog
Berbagai pakar sains dan teologi mengkritik klaim ini karena melampaui ranah ilmu pengetahuan empiris. Mereka menilai klaim mengenai “lokasi Tuhan” tidak dapat dibuktikan atau diuji secara objektif melalui metode ilmiah yang berlaku untuk fenomena fisik lain seperti bintang, planet, atau objek astronomi lainnya.
Profesor astrofisika yang tidak ingin disebutkan namanya menyatakan bahwa “ilmuwan bisa menggunakan konsep seperti cakrawala kosmik untuk menggambarkan batas pengamatan Alam Semesta, tetapi menghubungkan itu dengan keberadaan Tuhan adalah spekulasi filosofis atau teologis, bukan suatu teori ilmiah yang bisa diuji.”
Sementara itu, teolog dari sebuah universitas di Jakarta menilai gagasan tersebut sebagai upaya yang “menggabungkan pandangan spiritual dengan terminologi kosmologi modern”, namun tetap menekankan bahwa konsep Tuhan dalam mayoritas keyakinan agama bersifat transenden dan tidak bisa diukur oleh alat atau metode sains.”
Spekulasi dan Realitas Sains
Perlu ditegaskan, klaim Guillen ini lebih bersifat opini pribadi dan spekulatif, bukan hasil penelitian yang telah melalui proses peer-review di jurnal ilmiah terkemuka. Hal ini berbeda dengan temuan ilmiah lain yang didasarkan pada data astronomi konkret, misalnya penemuan potensi tanda kehidupan di exoplanet K2-18b yang dilaporkan para peneliti dari Universitas Cambridge melalui analisis atmosfer menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb.
Penelitian tentang exoplanet dan kemungkinan kehidupan di luar Bumi tersebut tetap berada di ranah ilmu astronomi yang dapat diobservasi dan dianalisis secara empiris, berbeda dengan klaim lokasi fisik Tuhan yang menggabungkan konsep kosmologi dan teologi tanpa bukti konkret yang bisa diuji ulang oleh komunitas sains global.
Kesimpulan: Antara Sains, Teologi, dan Batas Pengetahuan
Klaim penentuan “lokasi Tuhan” sejauh 439 sekstiliun kilometer dari Bumi mencerminkan usaha untuk menjembatani gagasan teologis dengan istilah dan konsep kosmologi modern. Namun, sebagian besar komunitas ilmiah menolak klaim ini sebagai temuan ilmiah yang sah, dan lebih melihatnya sebagai spekulasi pribadi yang tidak bisa dibuktikan secara empiris.
Diskusi tentang batas pengetahuan manusia dan bagaimana sains dapat menjelaskan fenomena alam terus berkembang. Tetapi hingga sekarang, sains modern belum memiliki metode yang dapat membuktikan keberadaan Tuhan secara empiris atau menghubungkan entitas spiritual dengan koordinat ruang dan waktu di alam semesta.

