Ekonomi

Setengah Hari Jualan Saat Imlek, Pedagang Burung Pipit Ini Langsung Cuan Rp17 Juta!

Jakarta, TentangRakyat.Id – Suasana Tahun Baru Imlek 2026 di depan Vihara Dharma Bhakti, Jakarta Barat, Selasa (17/2/2026), tampak lebih semarak dari biasanya. Di tengah riuh doa dan aroma dupa yang mengepul, deretan kandang burung pipit jadi pusat perhatian para pengunjung.

Burung-burung kecil itu bukan sekadar dagangan. Dalam tradisi Imlek, burung pipit memiliki makna simbolis: diterbangkan ke langit sebagai lambang membuang sial dan membuka lembaran baru penuh harapan. Tak heran, setiap perayaan Imlek, permintaan burung pipit selalu melonjak tajam.

Di antara para pedagang, sosok Rizki mencuri perhatian. Pria yang sudah lama mangkal di depan pintu masuk vihara itu mengaku selalu kebanjiran pembeli saat Imlek tiba. Sejak pagi, orang-orang silih berganti membeli burung untuk dilepas bersama keluarga.

“Setiap tahun pasti ramai. Tapi Imlek kali ini luar biasa,” ujarnya.

Tak hanya burung pipit, Rizki juga menyediakan burung merpati yang bisa diterbangkan kembali. Strategi itu membuat lapaknya tak pernah sepi. Dalam hitungan jam, kandang-kandang yang tadinya penuh perlahan kosong, berganti dengan lembaran rupiah yang terus bertambah.

Perayaan Imlek bukan hanya membawa harapan baru bagi para pengunjung vihara, tapi juga rezeki melimpah bagi para pedagang seperti Rizki. Di balik kepakan sayap burung-burung kecil yang terbang ke langit Jakarta, tersimpan cerita tentang tradisi, harapan, dan keberuntungan di awal tahun yang baru.

“Tiap tahun, setiap hari malah. Soalnya kan Imlek, Cap Gomeh, ada setiap hari, enggak setahun sekali,” kata Rizki saat ditemui di lokasi. Dia mengaku mematok harga Rp1.700 untuk seekor burung pipit. Sedangkan, sepasang burung merpati dibanderol seharga Rp270.000.

“Rp1.700 (per ekor burung pipit). Rp270.000 sepasang merpati),” kata dia.

Menurut Rizki, burung merpati harus dijual dan diterbangkan sepasang alias betina dan jantan. Sebab, burung ini menjadi simbol agar cepat mendapat jodoh.

“Kalau burung merpati untuk cari jodoh. Pipit biasanya buat buang sial atau mau cari kerja,” kata dia.

Menurutnya, masyarakat Tionghoa yang datang ke Vihara biasanya membeli puluhan hingga ratusan burung pipit.

“Ada yang pesen buat umur, ada yang pesen buat keluarga. Bebas, ada yabg 199m ada yang 1.000,” kata dia.

Sampai pukul 12.00 WIB, Rizki menyatakan burung dagangannya baru terjual 10.000 ekor. Menurutnya, jumlah ini jauh lebih sedikit dari biasanya.

“Hari ini 10 ribu (burung). Sedikitnya, biasanya 20 ribu,” kata dia.

jika dihitung, omzet penjualannya selama setengah hari mencapai Rp17 juta.

  • Kesimpulan

Perayaan Imlek 2026 membawa berkah besar bagi Rizki dan para pedagang burung di depan Vihara Dharma Bhakti. Dalam tradisi yang sarat makna—mulai dari membuang sial lewat burung pipit hingga mencari jodoh lewat sepasang merpati—antusiasme masyarakat tetap tinggi. Meski hingga siang hari penjualan disebut belum seramai biasanya, Rizki tetap mampu meraup omzet fantastis dalam waktu singkat. Momen Imlek pun kembali membuktikan bahwa di balik tradisi dan harapan yang diterbangkan ke langit, tersimpan pula peluang rezeki yang mengudara tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *