Polisi Periksa 7 Saksi dalam Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS
Jakarta – Kepolisian terus mendalami kasus penyiraman air keras yang menimpa aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus. Dalam perkembangan terbaru, penyidik telah memeriksa sedikitnya tujuh orang saksi untuk mengungkap pelaku serta motif di balik serangan tersebut.
Pemeriksaan terhadap saksi dilakukan setelah penyidik menerbitkan surat perintah penyidikan terkait insiden yang terjadi di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Polisi menyebut para saksi yang diperiksa terdiri dari pelapor, tim yang berada di lokasi, serta sejumlah warga yang mengetahui kejadian tersebut.
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Reynold Hutagalung mengatakan pemeriksaan saksi masih terus berlangsung untuk menggali informasi yang dapat membantu mengungkap pelaku.
“Penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap tujuh orang saksi dan proses pendalaman masih terus dilakukan,” ujar Reynold dalam keterangannya kepada wartawan.
Saksi Berasal dari Pelapor hingga Warga Sekitar
Menurut kepolisian, saksi yang diperiksa tidak hanya berasal dari pihak korban, tetapi juga dari warga yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Beberapa di antaranya adalah orang yang pertama kali membuat laporan polisi, tim yang berada di lapangan saat kejadian, serta empat orang yang menjadi saksi di tempat kejadian perkara (TKP).
Keterangan dari para saksi tersebut dinilai penting untuk membantu penyidik menyusun kronologi lengkap peristiwa serta mengidentifikasi pelaku yang melakukan serangan.
Polisi Analisis Kendaraan Pelaku
Selain memeriksa saksi, polisi juga tengah melakukan analisis terhadap kendaraan yang diduga digunakan oleh pelaku saat melakukan penyerangan.
Dari hasil pemeriksaan sementara, diketahui bahwa pelaku menggunakan dua sepeda motor saat melakukan aksinya. Setelah melakukan penyiraman air keras terhadap korban, kedua pelaku langsung melarikan diri dengan kecepatan tinggi.
Penyidik kini sedang menelusuri nomor polisi kendaraan yang terlihat dalam rekaman kamera pengawas (CCTV). Namun proses tersebut tidak mudah karena terdapat banyak kemungkinan identitas kendaraan yang muncul dari nomor pelat yang tertangkap kamera.
“Dari nomor polisi yang muncul, terdapat sekitar 260 kemungkinan yang sedang dianalisis,” kata salah satu pejabat kepolisian yang menangani kasus tersebut.
Rekaman CCTV Jadi Bukti Penting
Rekaman kamera pengawas menjadi salah satu bukti penting dalam penyelidikan kasus ini.
Dari rekaman tersebut, polisi mengetahui bahwa ada dua orang pelaku yang terekam berada di lokasi saat kejadian.
Kedua pelaku terlihat mengendarai sepeda motor sebelum akhirnya mendekati korban dan melakukan penyiraman cairan berbahaya tersebut.
Saat ini penyidik masih mendalami identitas dua orang yang terekam dalam CCTV untuk memastikan apakah mereka adalah pelaku utama dalam kasus tersebut.
Koordinasi dengan LPSK
Dalam proses penyelidikan, kepolisian juga berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
LPSK bahkan telah turun langsung ke lokasi kejadian untuk melakukan pengecekan dan memberikan perlindungan bagi saksi maupun korban yang terlibat dalam kasus ini.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan para saksi dapat memberikan keterangan secara aman tanpa tekanan dari pihak mana pun.
Kronologi Penyerangan
Peristiwa penyiraman air keras tersebut terjadi pada Kamis malam, 12 Maret 2026, sekitar pukul 23.30 WIB di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.
Saat itu Andrie Yunus sedang mengendarai sepeda motor ketika dua orang pelaku yang juga menggunakan sepeda motor mendekatinya.
Tanpa banyak interaksi, salah satu pelaku langsung menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arah tubuh korban sebelum melarikan diri.
Serangan tersebut menyebabkan Andrie mengalami luka bakar pada beberapa bagian tubuh, termasuk wajah, dada, dan tangan.
Korban Masih Jalani Perawatan
Akibat serangan tersebut, Andrie Yunus mengalami luka bakar yang cukup serius dan harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.
Luka tersebut terjadi karena cairan kimia yang disiramkan oleh pelaku mengenai beberapa bagian tubuh korban.
Meski demikian, kondisi korban dilaporkan mulai stabil setelah mendapatkan penanganan medis.
Kasus Jadi Perhatian Publik
Serangan terhadap aktivis KontraS ini memicu perhatian luas dari berbagai pihak, termasuk organisasi masyarakat sipil dan aktivis hak asasi manusia.
Banyak pihak menilai kasus ini bukan sekadar tindak kriminal biasa, tetapi berpotensi berkaitan dengan aktivitas advokasi yang dilakukan korban sebagai pembela HAM.
Karena itu, sejumlah organisasi mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus ini hingga menemukan pelaku serta pihak yang mungkin berada di balik serangan tersebut.
Polisi Diminta Ungkap Dalang
Selain menangkap pelaku lapangan, masyarakat sipil juga meminta polisi untuk mengungkap kemungkinan adanya aktor intelektual di balik serangan tersebut.
Beberapa pengamat menilai serangan terhadap aktivis sering kali memiliki motif yang lebih kompleks dibanding kejahatan biasa.
Karena itu, pengungkapan secara menyeluruh dinilai penting untuk memastikan bahwa kasus serupa tidak kembali terjadi di masa depan.
Penyelidikan Masih Berlangsung
Hingga kini, penyelidikan kasus penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus masih terus berlangsung.
Polisi menyatakan akan mengumpulkan semua bukti yang tersedia, termasuk keterangan saksi, rekaman CCTV, serta analisis kendaraan yang digunakan pelaku.
Jika identitas pelaku sudah terungkap, aparat penegak hukum akan segera melakukan penangkapan dan menetapkan tersangka dalam kasus tersebut.

