Internasional

Riyadh Diancam Serangan Udara, Houthi Klaim Saudi Gempur Yaman 26 Kali

RIYADH — Ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kembali meningkat tajam. Otoritas Saudi mengeluarkan peringatan ancaman udara di sejumlah wilayah, termasuk ibu kota Riyadh, sementara pihak Houthi mengklaim pesawat tempur Saudi melancarkan 26 serangan udara terhadap wilayah Yaman dalam kurun 24 jam.

Peringatan di Riyadh menjadi sorotan karena merupakan peringatan ancaman udara pertama di ibu kota Arab Saudi sejak konflik dengan Houthi kembali meningkat pada Juli 2026. Associated Press melaporkan sebuah ledakan terdengar di Riyadh setelah peringatan dikeluarkan, meski pada saat laporan awal diterbitkan belum ada informasi mengenai korban maupun kerusakan akibat ledakan tersebut.

Reuters juga melaporkan terlihat api dan kepulan asap hitam di sekitar kawasan bandara utama Riyadh pada Sabtu, 19 September 2026. Namun, penyebab kejadian itu belum dipastikan dan pemerintah Saudi belum langsung memberikan penjelasan mengenai sumber api tersebut.

Situasi itu berlangsung ketika pertempuran di Yaman dan serangan lintas batas antara kedua pihak semakin intensif.

Houthi Klaim Saudi Lancarkan 26 Serangan Udara

Kelompok Houthi menyatakan Arab Saudi melakukan 26 serangan udara dalam waktu 24 jam pada Jumat, 18 September 2026. Menurut juru bicara militer Houthi Yahya Saree, serangan tersebut difokuskan ke Provinsi Taiz.

Saree mengklaim jet tempur F-15 yang digunakan dalam operasi itu lepas landas dari pangkalan udara Khamis Mushait di wilayah barat daya Arab Saudi. Klaim mengenai jumlah serangan tersebut berasal dari pihak Houthi dan belum disertai konfirmasi terperinci dari pemerintah Saudi mengenai setiap serangan yang disebutkan.

Bukan hanya dalam periode 24 jam. Houthi juga menyatakan jumlah serangan udara Saudi ke sejumlah wilayah Yaman mencapai sekitar 300 kali dalam satu pekan.

Menurut pernyataan kelompok tersebut, serangan selama sepekan melibatkan pesawat F-15 dan Typhoon serta menyasar sejumlah provinsi, antara lain Taiz, Hajjah, Marib, Al-Jawf, Amran, Hodeidah, Saada, dan wilayah lainnya.

Intensitas serangan itu memperlihatkan eskalasi baru dalam konflik yang sempat mengalami penurunan ketegangan selama beberapa tahun.

Riyadh Dapat Peringatan Ancaman Udara

Pada saat operasi militer di Yaman berlangsung, Arab Saudi juga menghadapi ancaman serangan dari arah Yaman. Pertahanan sipil Saudi mengirimkan peringatan kepada penduduk Riyadh mengenai adanya ancaman udara.

Peringatan serupa sebelumnya juga diterbitkan untuk beberapa wilayah lain, termasuk Jeddah, Taif, Khamis Mushait dan Al Ula. Otoritas meminta masyarakat tetap waspada dan mengikuti petunjuk keselamatan dari saluran resmi.

Reuters melaporkan peringatan untuk Riyadh dan Al-Kharj kemudian dicabut setelah otoritas menyatakan ancaman telah berlalu. Meski demikian, perkembangan tersebut menandai meluasnya kekhawatiran keamanan hingga ke pusat politik dan ekonomi Arab Saudi.

Serangkaian insiden sebelumnya lebih banyak menyentuh wilayah selatan Saudi yang relatif dekat dengan perbatasan Yaman. Pada pekan yang sama, Saudi juga mengatakan pasukan koalisi berhasil mencegat dan menghancurkan drone Houthi di sebelah selatan Makkah sebelum memasuki wilayah udara terbatas kota tersebut.

Houthi membantah sengaja menargetkan tempat-tempat suci, tetapi kelompok itu mengakui telah melakukan sejumlah operasi terhadap sasaran di Arab Saudi.

Konflik Saudi-Houthi Kembali Memanas

Konflik Yaman berakar pada perkembangan politik dan militer yang berlangsung lebih dari satu dekade. Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014 dan menguasai sebagian besar wilayah berpenduduk di bagian utara Yaman.

Arab Saudi kemudian memimpin koalisi militer yang melakukan intervensi pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Perang berkepanjangan itu menimbulkan kerusakan luas dan memperburuk krisis kemanusiaan di Yaman.

Intensitas pertempuran menurun secara signifikan setelah gencatan senjata yang ditengahi PBB pada 2022. Namun, Reuters mencatat ketegangan kembali meningkat pada Juli 2026 ketika Houthi kembali meluncurkan rudal ke Arab Saudi setelah menuduh Riyadh melakukan serangan terhadap sebuah bandara di wilayah yang mereka kuasai.

Sejak itu, siklus serangan dan serangan balasan kembali meningkat.

Pada Agustus 2026, Houthi mengklaim menyerang kilang Saudi Aramco di Jazan. Serangan lintas batas kemudian terus terjadi hingga September, termasuk klaim serangan menggunakan rudal dan drone terhadap fasilitas militer serta infrastruktur energi Saudi.

Bab al-Mandab Ikut Jadi Titik Penting

Eskalasi terbaru tidak hanya berpengaruh terhadap wilayah daratan. Konflik juga meningkatkan risiko keamanan di jalur pelayaran Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab.

Houthi telah memperluas pengaruhnya di sepanjang pesisir barat Yaman dan menyatakan blokade terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Arab Saudi. Kelompok tersebut mengatakan kapal negara lain tetap dapat melalui jalur tersebut.

Bab al-Mandab memiliki posisi strategis karena menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi salah satu jalur penting perdagangan serta pengiriman energi internasional.

Data Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan lalu lintas kapal komoditas melalui Bab al-Mandab berada di bawah rata-rata dalam beberapa hari terakhir. Kondisi itu mendapat perhatian karena jalur tersebut memiliki peran semakin penting ketika pelayaran melalui Selat Hormuz juga menghadapi gangguan akibat ketegangan regional.

Ancaman terhadap dua jalur laut utama tersebut turut meningkatkan kekhawatiran tentang distribusi energi global.

Warga Sipil Yaman Kembali Terdesak

Di balik perkembangan militer, masyarakat sipil Yaman kembali menghadapi konsekuensi besar. Pertempuran yang meningkat membuat puluhan ribu warga meninggalkan tempat tinggal mereka.

International Organization for Migration (IOM) menyatakan pada 18 September 2026 bahwa lebih dari 112.000 orang telah mengungsi akibat memburuknya situasi dalam beberapa pekan terakhir. Sebagian besar perpindahan terjadi di kawasan pesisir barat dan Provinsi Taiz.

Angka tersebut menunjukkan dampak kemanusiaan dari konflik yang kembali meningkat setelah periode relatif lebih tenang.

Yaman sendiri telah bertahun-tahun menghadapi persoalan kekurangan pangan, pengungsian, kerusakan infrastruktur, serta terbatasnya akses terhadap pelayanan kesehatan. Bertambahnya pertempuran berisiko memperbesar kebutuhan bantuan kemanusiaan di tengah kondisi yang sudah rapuh.

Eskalasi Belum Menunjukkan Tanda Mereda

Perkembangan terbaru memperlihatkan konflik Saudi-Houthi memasuki fase yang semakin luas. Di satu sisi, Houthi mengklaim Saudi serang Houthi di Yaman melalui puluhan operasi udara hanya dalam sehari. Di sisi lain, Arab Saudi terus menghadapi serangan rudal dan drone yang diklaim Houthi terhadap berbagai sasaran di wilayah kerajaan.

Peringatan ancaman udara di Riyadh menjadi perkembangan penting karena menunjukkan risiko konflik tidak lagi hanya terkonsentrasi di daerah Saudi yang berbatasan dengan Yaman.

Pada saat bersamaan, perkembangan di Bab al-Mandab menambah dimensi lain dalam konflik. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat membawa dampak yang lebih luas terhadap perdagangan internasional dan pengiriman energi.

Belum jelas bagaimana kedua pihak akan mengelola eskalasi berikutnya. Yang dapat dipastikan dari perkembangan hingga Sabtu, 19 September 2026, serangan lintas batas dan operasi militer di Yaman kembali meningkat, sementara warga sipil serta jalur perdagangan kawasan menghadapi tekanan yang semakin besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *