Judul: Kisah Michael Bambang Hartono, Bos BCA yang Pernah Jadi Nasabah BRI karena Prestasi Olahraga
Sosok Michael Bambang Hartono tidak hanya dikenal sebagai pengusaha besar dan pemilik Grup Djarum, tetapi juga memiliki cerita unik yang jarang diketahui publik. Di balik posisinya sebagai pemegang saham utama Bank Central Asia (BCA), ia pernah tercatat sebagai nasabah PT Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Fakta menarik ini berawal dari kiprahnya di dunia olahraga. Michael Bambang Hartono tidak sekadar menjadi pengusaha sukses, tetapi juga aktif sebagai atlet bridge yang mewakili Indonesia di ajang Asian Games 2018. Dalam kompetisi tersebut, ia berhasil meraih medali perunggu bersama timnya.
Keberhasilan tersebut membuatnya berhak menerima bonus dari pemerintah. Presiden Joko Widodo saat itu memberikan apresiasi berupa bonus sebesar Rp 250 juta kepada para atlet peraih medali. Namun, yang menarik perhatian publik adalah mekanisme pencairan bonus tersebut.
Pemerintah menyalurkan bonus melalui rekening tabungan BRI, tepatnya produk BriTama Bisnis. Dengan demikian, Michael Bambang Hartono secara otomatis menjadi nasabah BRI, meskipun ia dikenal luas sebagai salah satu pemilik bank swasta terbesar di Indonesia, yakni BCA.
Cerita ini sempat menjadi bahan candaan di kalangan perbankan. Presiden Direktur BCA saat itu, Jahja Setiaatmadja, bahkan menanggapi situasi tersebut dengan nada santai. Ia menyebut bahwa “bosnya kini menjadi nasabah bank lain,” sebuah pernyataan yang menggambarkan sisi ringan dari dunia bisnis yang kompetitif.
Interaksi tersebut juga menunjukkan hubungan baik antar lembaga perbankan di Indonesia. Dalam kesempatan berbeda, pihak BCA bahkan berkomunikasi dengan jajaran BRI terkait hal tersebut dan menyambutnya sebagai bentuk kolaborasi yang positif.
Tidak berhenti di situ, kisah unik lainnya muncul ketika pemerintah menawarkan status Pegawai Negeri Sipil (PNS) kepada para atlet peraih medali. Tawaran tersebut juga memicu candaan karena membayangkan seorang konglomerat menjadi aparatur negara.
Di luar cerita unik tersebut, Michael Bambang Hartono memang dikenal memiliki kecintaan besar terhadap olahraga. Ia menekuni bridge sejak usia muda dan terus mengasah kemampuannya hingga mampu bersaing di level internasional. Saat tampil di Asian Games 2018, ia bahkan menjadi atlet tertua dalam kontingen Indonesia dengan usia mencapai 78 tahun.
Prestasi tersebut tidak hanya membanggakan, tetapi juga menunjukkan dedikasinya terhadap dunia olahraga. Bahkan, setelah menerima bonus dari pemerintah, ia memilih untuk mengembalikan seluruh dana tersebut guna mendukung pembinaan cabang olahraga bridge di Indonesia.
Sebagai pengusaha, Michael Bambang Hartono telah membangun kerajaan bisnis yang luas bersama saudaranya. Ia mengembangkan Grup Djarum menjadi konglomerasi besar yang merambah berbagai sektor, termasuk perbankan, teknologi, dan properti.
Namun demikian, kisahnya sebagai “bos bank yang menjadi nasabah bank lain” memberikan gambaran bahwa kehidupannya tidak selalu identik dengan formalitas bisnis. Ada sisi humanis dan sederhana yang membuatnya tetap dekat dengan masyarakat.
Kepergiannya pada 19 Maret 2026 di Singapura menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang tokoh besar Indonesia. Meski demikian, cerita-cerita unik seperti ini akan terus dikenang sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.
Kisah Michael Bambang Hartono menjadi bukti bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari kekayaan, tetapi juga dari kontribusi dan pengalaman hidup yang beragam. Dari ruang rapat perusahaan hingga meja pertandingan bridge, ia menunjukkan dedikasi yang sama besar dalam setiap perannya.

