Dapur Program Gizi di Ponorogo Jadi Sorotan, Berada Tepat di Bawah Kandang Burung Walet
Keberadaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, menjadi perhatian setelah diketahui lokasinya berada tepat di bawah kandang burung walet. Temuan ini muncul saat Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, melakukan inspeksi mendadak terhadap fasilitas tersebut.
Dalam sidak yang berlangsung pada awal Februari 2026, Nanik menilai lokasi dapur tersebut tidak layak untuk kegiatan produksi makanan bagi anak sekolah penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menegaskan bahwa dapur yang berada di bawah kandang walet berpotensi menimbulkan risiko kebersihan dan keamanan pangan.
Menurutnya, keselamatan anak-anak harus menjadi prioritas utama. Ia menolak kompromi terhadap potensi pencemaran makanan, mengingat dapur tersebut memproduksi makanan yang dikonsumsi siswa setiap hari.
Diberi Tenggat Relokasi Tiga Bulan
BGN langsung menginstruksikan pengelola untuk memindahkan dapur SPPG tersebut ke lokasi yang memenuhi standar teknis. Pemerintah memberikan waktu maksimal tiga bulan untuk melaksanakan relokasi. Jika dalam batas waktu tersebut dapur tidak dipindahkan, BGN menyatakan siap mengambil tindakan tegas, termasuk pencabutan operasional fasilitas.
Meski demikian, selama masa tenggat relokasi, operasional dapur masih diperbolehkan berjalan. Namun, pihak terkait wajib melakukan pengawasan ketat agar tidak terjadi masalah higienitas maupun keamanan pangan bagi penerima manfaat program MBG.
Informasi resmi BGN juga menegaskan bahwa relokasi menjadi keharusan karena dapur tersebut berada di lantai bawah bangunan bekas rumah walet dan berdekatan dengan rumah walet aktif. Kondisi ini dinilai berpotensi menimbulkan risiko sanitasi yang tidak sesuai standar penyelenggaraan dapur program gizi.
Temuan Masalah Teknis dan Sanitasi
Selain persoalan lokasi, inspeksi juga menemukan beberapa kekurangan lain pada fasilitas dapur. Tata letak ruangan dinilai tidak mengikuti standar operasional dan petunjuk teknis pembangunan dapur SPPG.
Petugas menemukan toilet berada di dalam area dapur bahkan dekat pintu masuk, yang berpotensi mengganggu kebersihan. Selain itu, alur keluar-masuk bahan pangan, makanan siap saji, dan peralatan kotor bercampur karena jumlah pintu terbatas dan salah satunya tidak berfungsi. Kondisi ini meningkatkan risiko kontaminasi bakteri.
Tim inspeksi juga mencatat penggunaan sejumlah peralatan dapur bekas, termasuk pendingin makanan. Fasilitas pencucian peralatan pun belum dilengkapi sistem pemanas air yang memadai untuk memastikan kebersihan optimal. Semua temuan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk meningkatkan standar pelaksanaan program gizi nasional.
Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis
Kasus dapur SPPG di Ponorogo ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis yang sedang digalakkan pemerintah. Program ini bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak sekolah melalui penyediaan makanan sehat dan aman.
BGN menegaskan bahwa setiap dapur penyedia makanan harus memenuhi standar higienitas, tata letak, serta sistem produksi yang jelas. Pengawasan ketat diperlukan agar tujuan program benar-benar tercapai tanpa mengorbankan aspek kesehatan penerima manfaat.
Pemerintah daerah, satgas MBG, serta pengelola dapur diminta segera berkoordinasi untuk memastikan perbaikan berjalan sesuai jadwal. Langkah relokasi diharapkan dapat menghilangkan potensi risiko sekaligus meningkatkan kualitas layanan penyediaan makanan.
Pentingnya Standar Keamanan Pangan
Insiden ini juga menunjukkan bahwa keamanan pangan tidak hanya bergantung pada bahan makanan, tetapi juga pada lingkungan produksi. Lokasi dapur, alur kerja, serta fasilitas sanitasi berperan penting dalam menjaga kualitas makanan.
Dengan adanya evaluasi ini, pemerintah berharap seluruh dapur program gizi di berbagai daerah dapat memenuhi standar yang telah ditetapkan. Pengawasan berkelanjutan menjadi kunci agar program nasional tersebut dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat, khususnya anak sekolah

