Waspada Gejala Penyakit Jantung yang Terasa di Leher, Kenali Sebelum Fatal
Jakarta, 18 Januari 2026 — Banyak orang mengenali penyakit jantung dari nyeri dada. Namun, gejala penyakit jantung sering kali muncul di tempat lain, termasuk rasa tidak nyaman atau nyeri di leher. Kondisi ini dapat menandakan gangguan serius pada jantung dan harus diwaspadai sejak awal.
Penyakit jantung, khususnya coronary artery disease (CAD) atau penyakit arteri koroner, terjadi ketika pembuluh darah yang menyuplai darah ke otot jantung menyempit atau tersumbat akibat penumpukan plak. Akibatnya, jantung tidak mendapatkan oksigen yang cukup dan memicu gejala yang bisa muncul di berbagai bagian tubuh.
Kenali Nyeri yang Menyebar dari Dada ke Leher
Kondisi nyeri atau ketidaknyamanan di leher sering dikaitkan dengan masalah jantung, terutama saat disertai gejala lain. Rasa nyeri ini sering digambarkan sebagai sensasi tekanan, sesak, atau ketidaknyamanan yang menjalar dari dada menuju leher hingga rahang.
Menurut British Heart Foundation, rasa tidak nyaman di leher bisa terjadi tiba-tiba dan biasanya dirasakan bersamaan dengan gejala lain seperti nyeri dada, sesak napas, atau pusing. Perempuan usia 45–53 tahun lebih sering melaporkan gejala semacam ini, tetapi siapa saja tetap bisa mengalaminya.
Gejala lain yang juga perlu dicurigai antara lain:
- Rasa sesak atau nyeri di lengan, punggung, rahang, atau perut
- Pusing atau merasa melayang
- Mudah lelah atau sesak napas
- Mual atau keringat dingin
Gejala-gejala ini bisa terjadi secara bersamaan atau bergantian, dan penting untuk tidak mengabaikannya, terutama jika gejala muncul tanpa sebab jelas seperti setelah aktivitas berat atau saat istirahat.
Mengapa Gejala Bisa Terasa di Leher?
Secara medis, nyeri atau tekanan yang muncul di leher saat gangguan jantung berkaitan dengan bagaimana sistem saraf menginterpretasikan rasa sakit dari jantung. Sensasi nyeri dari jantung dapat “dipantulkan” ke wilayah lain seperti leher, lengan, atau rahang karena saraf-saraf di tubuh saling terhubung.
Selain itu, beberapa kondisi jantung lainnya, termasuk angina pektoris, bisa menyebabkan sensasi ketidaknyamanan yang mirip dengan nyeri leher yang menjalar dari dada. Angina terjadi ketika aliran darah ke otot jantung terganggu, menghasilkan rasa tekanan atau sesak yang dapat menyebar ke area lain.
Perbedaan Gejala pada Keluarga dan Risiko Individu
Tidak semua gejala jantung tampak sama pada setiap orang. Misalnya, wanita sering mengalami gejala yang kurang khas, seperti mual, pusing, atau ketidaknyamanan di leher dan rahang, sementara pria lebih sering merasakan nyeri dada klasik.
Faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami penyakit jantung meliputi:
- Hipertensi (tekanan darah tinggi)
- Kolesterol tinggi
- Diabetes
- Merokok dan pola hidup tidak aktif
- Obesitas dan diet tinggi lemak jenuh
- Riwayat keluarga dengan penyakit jantung
Orang dengan satu atau lebih faktor risiko ini perlu lebih waspada ketika gejala muncul. Pemeriksaan rutin ke dokter bisa membantu mendeteksi masalah jantung sejak awal, bahkan sebelum gejala berat muncul.
Langkah Tepat Ketika Gejala Muncul
Jika seseorang merasakan nyeri di leher yang disertai gejala lain seperti sesak napas, pusing, atau nyeri dada yang menjalar, penting untuk segera mencari bantuan medis darurat. Waktu sangat penting dalam kondisi jantung; penanganan cepat dapat mencegah kerusakan jantung yang lebih serius atau fatal.
Tenaga medis biasanya akan melakukan serangkaian tes, seperti elektrokardiogram (EKG) atau tes darah, untuk menentukan apakah gejala yang muncul berkaitan dengan gangguan jantung atau kondisi lain. Setelah diagnosis ditetapkan, dokter dapat menyarankan pengobatan, perubahan gaya hidup, serta manajemen risiko yang tepat.
Meningkatkan Kesadaran Dini untuk Mencegah Risiko
Masyarakat perlu meningkatkan kesadaran akan berbagai gejala penyakit jantung — tidak hanya nyeri dada klasik. Rasa nyeri atau tekanan di leher, terutama jika muncul tiba-tiba dan disertai tanda lain, wajib diwaspadai sebagai kemungkinan gangguan jantung yang serius.
Melalui edukasi yang lebih luas dan deteksi dini, banyak kasus penyakit jantung dapat teridentifikasi lebih cepat, mengurangi angka komplikasi dan kematian akibat gangguan jantung.

