Ahli Ingatkan 6 Makanan yang Sebaiknya Dihindari Saat Buka Puasa agar Pencernaan Tetap Sehat
Momen berbuka puasa menjadi waktu yang paling dinanti setelah menahan lapar dan haus seharian. Namun para ahli kesehatan mengingatkan bahwa pemilihan makanan saat berbuka sangat menentukan kondisi tubuh, terutama sistem pencernaan yang baru kembali aktif setelah beristirahat selama berjam-jam.
Mengutip laporan dari Beautynesia, sistem pencernaan mengalami penurunan aktivitas enzim selama puasa. Kondisi tersebut membuat tubuh membutuhkan proses adaptasi secara bertahap ketika kembali menerima makanan. Jika seseorang langsung mengonsumsi makanan berat atau sulit dicerna, risiko gangguan seperti kembung, mual, hingga kenaikan asam lambung dapat meningkat.
Karena itu, para pakar menyarankan masyarakat untuk lebih selektif memilih menu berbuka. Setidaknya terdapat enam jenis makanan yang sebaiknya tidak dijadikan santapan pertama saat berbuka puasa.
1. Makanan ultra-processed atau serba instan
Makanan olahan tinggi seperti nugget, sosis, pizza beku, keripik, hingga sup instan memang praktis. Namun jenis makanan ini umumnya tinggi kalori, minyak, gula, serta bahan tambahan, sementara kandungan nutrisinya relatif rendah. Konsumsi makanan ultra-processed saat perut kosong dapat membuat sistem pencernaan bekerja lebih keras sehingga memicu rasa tidak nyaman.
2. Gorengan dan makanan tinggi lemak
Gorengan sering menjadi menu favorit saat berbuka. Meski begitu, makanan yang digoreng atau berbasis krim mengandung lemak tinggi yang dapat memicu peradangan ringan pada saluran cerna. Kondisi tersebut dapat menyebabkan mual, kram perut, atau rasa berat setelah makan. Mengonsumsi terlalu banyak gorengan saat berbuka juga berpotensi menurunkan energi karena tubuh memerlukan waktu lebih lama untuk mencerna lemak.
3. Minuman manis dan soda berlebihan
Minuman manis seperti sirup, es teh gula tinggi, maupun soda sering dianggap menyegarkan. Namun kadar gula yang tinggi dapat memicu lonjakan gula darah secara cepat, lalu turun drastis dalam waktu singkat. Fluktuasi ini membuat tubuh terasa lemas, mudah lapar kembali, dan meningkatkan keinginan mengonsumsi gula berlebih.
4. Kopi dan minuman berkafein
Bagi pecinta kopi, minum kopi tepat saat berbuka sebaiknya dihindari. Kafein pada perut kosong dapat merangsang produksi asam lambung serta menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan. Risiko tersebut semakin besar jika kopi dicampur sirup atau krim tinggi lemak. Para ahli menyarankan untuk mengonsumsi makanan ringan terlebih dahulu sebelum minum kopi.
5. Sayuran mentah yang sulit dicerna
Sayuran memang menyehatkan, tetapi beberapa jenis sayuran mentah seperti brokoli, kubis, dan kembang kol mengandung serat tinggi yang sulit dicerna dalam kondisi perut kosong. Konsumsi langsung saat berbuka dapat menimbulkan gas berlebih dan rasa kembung. Memasak sayuran terlebih dahulu, misalnya dengan cara dikukus atau direbus, dapat membantu tubuh mencernanya lebih mudah.
6. Daging merah dalam porsi besar
Daging merah memiliki struktur serat yang padat sehingga membutuhkan waktu lama untuk dicerna. Jika langsung dikonsumsi saat berbuka dalam porsi besar, tubuh akan mengalihkan banyak energi untuk proses pencernaan. Akibatnya, seseorang bisa merasa begah, mengantuk, atau tidak nyaman setelah makan.
Pentingnya berbuka secara bertahap
Para ahli menekankan bahwa berbuka puasa idealnya dilakukan secara bertahap. Langkah pertama adalah mengembalikan cairan tubuh dengan air putih atau minuman alami. Setelah itu, pilih makanan ringan yang mudah dicerna seperti sup, buah, atau sumber protein ringan.
Pendekatan ini membantu tubuh beradaptasi kembali secara perlahan, menjaga stabilitas gula darah, serta mencegah gangguan pencernaan. Selain itu, pola makan bertahap juga membantu menjaga energi tetap stabil hingga malam hari.
Pemilihan makanan yang tepat saat berbuka bukan hanya soal kenyang, tetapi juga menjaga kesehatan selama Ramadan. Dengan menghindari makanan berat di awal dan memilih menu yang lebih ramah bagi pencernaan, masyarakat dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih nyaman dan tetap produktif.

