Biang Kerok Harga Bitcoin Anjlok di 2026
Jakarta — Harga Bitcoin (BTC) kembali melemah menyusul gelombang tekanan di pasar kripto global. Pada Jumat (19/2), BTC tercatat turun ke kisaran US$ 66.450–US$ 68.000, level terendah dalam beberapa bulan terakhir, dan masih bergejolak di tengah sentimen negatif investor.
1. Sentimen Kebijakan The Fed Menjadi Pemicu Utama
Salah satu faktor yang paling menekan Bitcoin adalah respons pasar terhadap risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Notulensi terbaru menunjukkan adanya perbedaan pandangan para pejabat Federal Reserve AS tentang arah suku bunga — ada suara yang membuka peluang kenaikan, sementara lainnya lebih hati-hati terhadap penurunan suku bunga.
Investor menginterpretasikan nada kebijakan yang hawkish ini sebagai sinyal bahwa pelonggaran moneter akan tertunda, sehingga aset berisiko seperti Bitcoin menjadi kurang menarik dalam jangka pendek.
2. Arus Keluar Dana ETF Bitcoin
Selain faktor kebijakan moneter, arus keluar besar dari dana ETF Bitcoin di AS juga turut memperlemah harga. Data pasar global menunjukkan investor institusional menarik modal secara signifikan dari produk ETF dalam beberapa minggu terakhir, menyebabkan tekanan jual meningkat dan menekan permintaan terhadap BTC.
Fenomena arus keluar ETF ini tercatat di banyak analis pasar sebagai salah satu penyebab utama koreksi tajam Bitcoin yang terjadi beberapa pekan terakhir.
3. Tekanan Risiko Pasar dan Sentimen Global
Ketidakpastian di pasar keuangan secara umum turut memperparah tekanan terhadap Bitcoin. Risiko geopolitik, volatilitas pada saham teknologi, dan kekhawatiran makroekonomi membuat aliran modal global cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman — contohnya safe haven seperti emas.
Indeks volatilitas di pasar kripto juga meningkat, mencerminkan ketidakpastian investor tentang arah jangka pendek BTC dan aset digital lainnya.
4. Dampak pada Fund & Investor Institusional
Koreksi tajam Bitcoin juga berdampak pada kinerja sejumlah dana dan investasi berbasis kripto. Sebagai contoh, beberapa crypto fund besar melaporkan kerugian signifikan akibat kejatuhan nilai BTC sepanjang 2025 diekstrapolasi ke 2026.
Investor ritel pun merasakan dampak volatilitas tersebut, dengan volume perdagangan yang terkadang melonjak tajam saat harga bergerak cepat ke bawah.
5. Apakah Ini Titik Terendah?
Beberapa analis mengatakan bahwa fase risk-off ini masih mungkin berlanjut jika indikator makroekonomi terus mendukung pasar uang ketat. Namun ada juga yang memandang bahwa setiap koreksi besar juga membuka peluang akumulasi jangka panjang terutama bagi investor yang memanfaatkan volatilitas untuk membeli pada harga lebih rendah.
Kesimpulan:
Harga Bitcoin anjlok pada awal 2026 bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari kebijakan moneter The Fed yang tidak mendukung ekspektasi penurunan suku bunga, arus keluar modal dari ETF Bitcoin, serta tekanan risiko di pasar global yang membuat aset berisiko menjadi kurang menarik.
