Megawati Kirim Surat Duka ke Iran: Tegaskan Penolakan Terhadap Agresi Militer
JAKARTA — Presiden kelima Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum Megawati Soekarnoputri menyampaikan rasa duka cita mendalam melalui surat resmi kepada Pemerintah Republik Islam Iran setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Surat itu diserahkan langsung kepada Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta pada Selasa (3/3/2026).
Langkah ini dilakukan Megawati sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi Khamenei dan solidaritas Indonesia di tengah konflik militer yang berlangsung di kawasan Timur Tengah. Dalam suratnya, ia juga menegaskan sikap tegas Indonesia menolak setiap tindakan agresi militer yang melanggar kedaulatan negara.
Rasa Duka dan Solidaritas
Megawati membuka suratnya dengan menyampaikan duka cita yang mendalam kepada pemerintah, keluarga, dan rakyat Iran atas wafatnya Ayatollah Khamenei yang dilaporkan tewas dalam serangan militer mendadak pada 28 Februari 2026. Ia menggambarkan peristiwa itu sebagai kejutan besar yang membawa duka tidak hanya bagi rakyat Iran tetapi juga dunia internasional.
Surat itu juga mencatat kualitas pribadi serta peran Khamenei dalam kehidupan politik dan sosial Iran. Megawati mengenang hubungan Indonesia–Iran yang pernah terjalin erat, termasuk kunjungannya ke Teheran pada tahun 2004 sebagai Presiden RI untuk memperkuat kerja sama kedua negara.
Tegaskan Sikap Indonesia Tolak Agresi
Lebih jauh, dalam surat dukacita tersebut, Megawati menegaskan bahwa Indonesia berdiri bersama rakyat Iran dalam menolak agresi militer sepihak yang mengguncang kawasan. Ia menulis bahwa setiap bentuk penggunaan kekuatan bersenjata yang melanggar kedaulatan negara justru membahayakan perdamaian kawasan dan dunia.
Megawati menggarisbawahi prinsip politik luar negeri Indonesia yang berlandaskan pada bebas aktif, yakni tidak berpihak kepada kekuatan militer dan berkomitmen pada penyelesaian konflik melalui dialog, diplomasi, dan penghormatan terhadap hukum internasional. Ia menyatakan bahwa bangsa Indonesia percaya bahwa paling efektif menyelesaikan perselisihan adalah melalui jalur perundingan yang adil, bukan melalui kekerasan.
Penyerahan Surat Dukacita di Jakarta
Surat itu diserahkan oleh Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, bersama Ketua DPP Bidang Luar Negeri Ahmad Basarah kepada Duta Besar Iran di Jakarta, Mohammad Boroujerdi. Serah terima berlangsung di kantor Kedutaan Besar Republik Islam Iran, menunjukkan hubungan diplomatik kedua negara yang tetap berjalan meskipun situasi geopolitik di kawasan menjadi sangat tegang.
Duta Besar Iran menyampaikan apresiasi terhadap langkah Megawati dan Indonesia melalui perwakilan diplomatiknya. Hal ini mencerminkan hubungan persahabatan yang tetap terjaga di tengah tantangan internasional serius yang kini tengah dialami oleh Iran.
Situasi Konflik yang Menyertai
Wafatnya Khamenei terjadi di tengah eskalasi militer antara Iran dengan koalisi negara lain yang dipicu oleh serangan udara pada akhir Februari 2026. Konflik itu telah menarik perhatian dunia karena beberapa negara mengecam tindakan militer yang melanggar kedaulatan dan melibatkan serangan terhadap fasilitas serta pusat pemerintahan di Iran, menimbulkan korban sipil dan aparat keamanan.
Pernyataan keras Megawati turut mencerminkan respon beberapa pihak internasional lain yang ikut mengecam kekerasan tersebut dan menyerukan penghentian agresi. Negara-negara serta kelompok politik di berbagai wilayah menyerukan agar konflik tersebut diselesaikan secara damai dan menghormati hukum internasional.
Politik Luar Negeri Bebas Aktif sebagai Dasar Sikap
Dalam suratnya, Megawati menekankan kembali bahwa prinsip dasar politik luar negeri Indonesia menuntun sikap bangsa ini dalam konflik global, yaitu bebas aktif. Melalui prinsip ini, Indonesia terus mendorong penyelesaian sengketa melalui jalur diplomasi dan dialog sekaligus menolak segala bentuk agresi militer yang mengancam perdamaian.
Dengan demikian, langkah Megawati mengirimkan surat duka kepada Pemerintah Iran bukan hanya ungkapan belasungkawa, tetapi sekaligus penegasan bahwa Indonesia tetap konsisten pada nilai-nilai kemanusiaan, penghormatan terhadap kedaulatan negara, dan diplomasi sebagai jalan utama penyelesaian konflik internasional.

