Setelah Kritik Pedas ke Pemerintah, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Alami Teror Misterius
Jakarta, tvOnenews.com – Nama Tiyo Ardianto mendadak meledak di ruang publik. Ketua BEM KM UGM itu menjadi sorotan tajam setelah memimpin kritik keras terhadap pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka dan mengaku menerima teror usai bersurat ke UNICEF.
Lewat rilis resmi bertajuk “Rezim yang Bodoh dan Inkompeten”, mahasiswa Filsafat angkatan 2022 itu memantik perdebatan panas. Dukungan mengalir, kritik berdatangan. Media sosial pun terbelah.
- Sosok di Balik Kritik Tajam
Tiyo Ardianto tercatat sebagai mahasiswa Program Sarjana Filsafat di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia terdaftar sejak 16 Agustus 2021 dengan NIM 21476866FI04940 dan hingga Semester Genap 2024/2025 masih berstatus aktif.
Lahir di Kudus, Jawa Tengah, 26 April, Tiyo bukan nama baru di dunia aktivisme kampus. Sebelum menginjakkan kaki di kampus kerakyatan, ia menempuh pendidikan di SMA Negeri 3 Yogyakarta (Padmanaba), sekolah yang dikenal melahirkan banyak tokoh intelektual.
Di lingkungan kampus, Tiyo dikenal vokal dan tak kompromistis terhadap kekuasaan. Independensi menjadi napas gerakannya. Sikap itu pula yang mengantarkannya terpilih sebagai Ketua BEM UGM.
- Keluar dari BEM SI: Sikap Tanpa Kompromi
Pada Musyawarah Nasional XVIII Aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan di Padang, Tiyo mengambil keputusan besar: keluar dari BEM SI.
Alasannya tegas. Ia kecewa karena forum mahasiswa tersebut dihadiri pejabat politik dan negara. Baginya, gerakan mahasiswa harus berdiri di luar orbit kekuasaan.
Tiyo mengkritik kedekatan BEM SI dengan penguasa yang dinilai mencederai nilai perjuangan mahasiswa. Ia menegaskan BEM KM UGM ingin tetap independen, tanpa intervensi politik dan tanpa kepentingan tersembunyi.
Tak hanya itu, ia juga mengecam keras kekacauan dan bentrokan yang terjadi dalam forum tersebut. Menurutnya, tidak ada jabatan yang layak diperebutkan dengan kekerasan yang merusak persatuan gerakan.
Baginya, gerakan mahasiswa harus melebur dengan rakyat — mandiri, kritis, dan tak terkooptasi.
- Surat ke UNICEF dan Dugaan Teror
Kontroversi memuncak ketika Tiyo disebut mengirim surat ke UNICEF terkait hak pendidikan, menyusul tragedi memilukan di Nusa Tenggara Timur: seorang anak SD berusia 10 tahun meninggal dunia setelah tak mampu membeli alat tulis seharga Rp10 ribu.
Dalam surat yang beredar, Tiyo menulis kalimat menggugah:
“What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book?”
Ia mempertanyakan komitmen negara terhadap hak dasar pendidikan dan disebut turut melontarkan kritik terhadap pemerintah.
Tak lama setelah itu, Tiyo mengaku menerima pesan WhatsApp dari sedikitnya enam nomor misterius berkode +44 — kode negara Inggris Raya. Ia menduga pesan-pesan tersebut merupakan bentuk intimidasi.
- Polarisasi dan Pertaruhan Moral
Langkah Tiyo Ardianto memicu gelombang reaksi. Sebagian memuji keberaniannya sebagai representasi suara mahasiswa yang kritis. Sebagian lain menilai kritiknya terlalu keras dan provokatif.
Namun satu hal pasti: Tiyo memilih berdiri di garis depan, mengambil risiko, dan mempertaruhkan posisinya demi menyuarakan apa yang ia yakini sebagai kebenaran.
Di tengah iklim politik yang memanas, sosoknya menjadi simbol pertanyaan besar:
Apakah mahasiswa masih menjadi penjaga nurani bangsa — atau justru sedang diuji konsistensinya?
Perdebatan mungkin tak akan segera reda. Tetapi nama Tiyo Ardianto kini telah tercatat sebagai salah satu figur mahasiswa paling vokal di era pemerintahan baru.
“Agen asing. Jangan cari panggung jual narasi sampah,” demikian salah satu bunyi pesan yang diterima Tiyo.
Tak cuma itu, Tiyo mengaku mendapat serangan dari sisi lain termasuk di sosial media seperti Facebook, X, Instagram hingga TikTok.
” Mereka juga membuat konten yang kemudian dikirimkan ke saya dalam bentuk gambar ‘Awas LGBT di UGM’ dengan foto saya. Bahkan, ada konten pembunuhan karakter yang foto saya itu di generate oleh AI dengan tulisan bahwa ‘Tiyo ini adalah langganan. Tiyo ini adalah langganan. Tiyo ini suka menyewa LC karaoke,” katanya dikutip pada Kamis (19/2/2026).
Bahkan, ibu Tiyo menerima pesan yang mengatakan bahwa anaknya korupsi dana kampus.
- Diancam Diculik dan Merasa Diikuti
Teror disebut meningkat dalam periode 9–11 Februari 2026. Tiyo mengaku menerima pesan berisi ancaman penculikan yang dikirim secara konsisten dalam rentang waktu tersebut.
Tak berhenti di dunia maya, ia juga mengklaim mengalami intimidasi langsung. Pada Rabu (11/2/2026), Tiyo merasa dibuntuti dua pria bertubuh tegap tak dikenal di sebuah kedai. Menurut pengakuannya, kedua pria itu mengambil foto dirinya dari kejauhan. Situasi tersebut mempertebal kesan bahwa tekanan yang ia alami bukan sekadar pesan anonim.
Jika benar, rangkaian peristiwa ini menunjukkan eskalasi: dari kritik dibalas komentar, menjadi pesan misterius, hingga dugaan penguntitan fisik.
- Diancam Diculik dan di Ikuti Tiyo: “Saya Tidak Takut”
Di tengah gelombang ancaman, Tiyo menegaskan satu hal: ia tidak akan gentar.
Ia menyatakan tak akan menunjukkan rasa takut atas aksi teror yang disebut menimpanya. Baginya, kritik terhadap kekuasaan adalah bagian dari tanggung jawab moral mahasiswa.
Sikap ini mempertegas posisi Tiyo — bukan sekadar sebagai Ketua BEM KM Universitas Gadjah Mada, tetapi sebagai figur yang memilih tetap bersuara di tengah tekanan.
Kontroversi boleh membesar. Tekanan boleh datang. Namun pesan yang ingin ia kirim jelas: intimidasi tidak akan membungkam kritik.
- Tiyo menegaskan tidak akan menunjukkan rasa takut akan aksi teror ini
“Cahaya itu telah menerangi gulita teror dan bahaya yang saya, keluarga dan pengurus BEM UGM alami. Kita buat setiap teror itu gagal dengan tetap berdiri tegak dan kepala mendongkak,” tulisnya di Instagram pribadinya
“Soal teror dan ancaman yang saya, keluarga dan pengurus BEM terima, kami sudah komunikasikan dengan LPSK, KIKA dan kampus untuk tindak lanjutnya,” sambungnya. (nsi/muu)
- Kesimpulan
Kasus yang menimpa Tiyo Ardianto menunjukkan bagaimana kritik politik di ruang publik dapat berujung pada gelombang tekanan yang serius — mulai dari serangan digital, fitnah personal, hingga dugaan intimidasi fisik. Setelah melontarkan kritik keras terhadap pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka dan bersurat ke UNICEF, Ketua BEM KM Universitas Gadjah Mada itu mengaku menghadapi teror beruntun yang bahkan menyeret nama keluarganya.

