Berita

BMKG Waspadai Potensi Cuaca Ekstrem dan Hujan Lebat Saat Awal Puasa Ramadan 2026

Jakarta — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi pada awal puasa Ramadan 2026, seiring dengan dinamika atmosfer yang meningkat di sejumlah wilayah Indonesia.

Peringatan ini muncul di tengah pengamatan kondisi atmosfer dan fenomena cuaca, termasuk keberadaan bibit siklon tropis 96S di Samudera Hindia, yang dinilai berpotensi memperkuat pergerakan massa udara basah ke wilayah Indonesia bagian barat dan selatan. BMKG menyatakan puncak dampaknya kemungkinan dirasakan pada minggu pertama Ramadan, dengan potensi hujan lebat, kilat, dan angin kencang di beberapa daerah.

“Masyarakat diimbau waspada terhadap potensi cuaca ekstrem ini terutama di awal bulan puasa, karena dampaknya tidak hanya pada hujan deras tetapi juga gelombang tinggi di wilayah perairan tertentu,” ujar Kepala BMKG dalam keterangannya, Senin (15/2/2026).


Wilayah yang Berpotensi Terdampak

BMKG mengidentifikasi sejumlah wilayah yang berisiko mengalami cuaca ekstrem, termasuk intensitas hujan tinggi yang bisa memicu banjir lokal dan tanah longsor, terutama di daerah dengan kontur geografis rawan. Wilayah-wilayah tersebut meliputi:

  • Sumatra bagian barat dan selatan
  • Jawa Barat hingga Jawa Tengah
  • Banten, DKI Jakarta, serta wilayah pesisir selatan Jawa
  • Kalimantan dan Sulawesi bagian tertentu

Selain itu, BMKG memperingatkan bahwa gelombang tinggi dengan ketinggian mencapai 2,5–4 meter diperkirakan akan muncul di beberapa perairan, termasuk Samudera Hindia sebelah selatan Sumatra dan perairan selatan Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara. Nelayan dan aktivitas pelayaran kecil diimbau untuk waspada serta mempertimbangkan rencana pelayaran jika kondisi cuaca memburuk.


Penyebab Utama Cuaca Ekstrem Bertepatan Ramadan

Peningkatan potensi cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh kombinasi sejumlah faktor atmosfer:

  1. Bibit siklon tropis 96S
    Massa udara basah yang terakumulasi di perairan Samudera Hindia berinteraksi dengan sistem cuaca lokal hingga atmosfer di wilayah Indonesia, menjadi katalis terjadinya pembentukan awan hujan lebat.
  2. Pergerakan La Nina dan dinamika suhu permukaan laut
    Fenomena La Nina masih memberi pengaruh terhadap distribusi panas laut, memicu peningkatan uap air di atmosfer yang dapat menambah intensitas curah hujan.
  3. Sirkulasi angin dan konvergensi di darat
    Aliran angin lembap dari berbagai arah bertemu dan terangkat di wilayah daratan, mendorong pembentukan awan badai dan hujan intens.

Ketiga faktor ini bekerja bersama sehingga memperbesar peluang terjadinya hujan deras disertai angin kencang, kilat, dan bahkan potensi banjir bandang di daerah tertentu.


Waspada Gelombang Tinggi di Laut Lepas

Selain potensi hujan ekstrem di daratan, BMKG memperkirakan gelombang tinggi di laut lepas dapat mengancam pelayaran kecil dan aktivitas laut di awal Ramadan. Gelombang diperkirakan mencapai 2,5–4,0 meter, terutama di:

  • Samudera Hindia selatan Sumatra
  • Perairan selatan Jawa sampai Bali
  • Perairan selatan Nusa Tenggara

BMKG mengimbau para nelayan tradisional dan kapal kecil untuk menunda pelayaran atau memilih lokasi yang lebih aman sampai kondisi cuaca membaik.


Arahan Bagi Masyarakat & Pemerintah Daerah

BMKG mengeluarkan rekomendasi praktis untuk masyarakat dan pemerintah daerah menjelang musim hujan ekstrem ini, antara lain:

  • Masyarakat di daerah rawan banjir dan longsor agar menyiapkan alat evakuasi darurat
  • Memperhatikan informasi prakiraan cuaca harian melalui kanal resmi BMKG
  • Pemerintah daerah memperkuat sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan bencana
  • Memastikan saluran air dan drainase berfungsi optimal untuk mengurangi risiko genangan

Langkah-langkah ini dianggap penting agar dampak cuaca ekstrem dapat diminimalkan, terutama saat bulan puasa ketika mobilitas masyarakat tetap tinggi untuk kebutuhan ibadah dan aktivitas sosial.


Penutup: Ramadan dan Cuaca yang Dinamis

BMKG menegaskan bahwa fenomena cuaca ekstrem pada awal Ramadan 2026 merupakan bagian dari dinamika klimatologis yang perlu diwaspadai, tetapi bisa dimitigasi bila masyarakat proaktif dalam memantau informasi cuaca. Intensitas hujan dan gelombang di awal puasa juga menjadi pengingat bagi warga Indonesia bahwa perubahan musim masih berlangsung dinamis.

BMKG berjanji akan terus memonitor perkembangan cuaca dan menginformasikan setiap pembaruan risiko cuaca ekstrem, sehingga masyarakat dan pemerintah dapat mengambil langkah antisipatif lebih awal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *