Negosiator AS Sambangi USS Abraham Lincoln di Tengah Ketegangan dengan Iran
Washington/DC – Dua negosiator utama Amerika Serikat untuk urusan Iran, yaitu Steve Witkoff dan Jared Kushner, mengunjungi kapal induk USS Abraham Lincoln yang tengah beroperasi di Laut Arab pada akhir pekan ini. Kunjungan itu terjadi di tengah ketegangan diplomatik dan militer yang meningkat antara Washington dan Teheran.
Kunjungan ini bukan hanya simbolis — pejabat AS mengaku ingin melihat langsung kondisi pasukan dan menunjukkan “kekuatan yang siap dan siaga” menjelang babak negosiasi lebih lanjut dengan Iran. USS Abraham Lincoln sendiri sedang memimpin Carrier Strike Group 9 yang ditempatkan di kawasan sebagai respons atas meningkatnya risiko konflik di Timur Tengah.
Latar Belakang Negosiasi dan Ketegangan
Ketegangan antara AS dan Iran meningkat sejak awal 2026. Kedua negara baru saja menggelar putaran pertama perundingan tidak langsung di Muscat, Oman, yang difasilitasi mediator regional. Perundingan difokuskan pada program nuklir Iran, sementara AS menuntut pembatasan ballistic missile serta dukungan Tehran terhadap kelompok bersenjata di kawasan.
Dalam wawancara yang dipublikasikan melalui kanal resmi Telegram dan jaringan berita internasional, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Iran berharap dialog dengan AS akan berlanjut, namun menegaskan bahwa pembicaraan tidak boleh mencakup program rudal Iran karena dianggap sebagai urusan pertahanan.
Ancaman Iran Terhadap Pangkalan Militer AS
Respons keras datang dari Teheran. Araghchi menegaskan bahwa jika AS melakukan serangan militer terhadap Iran, militer Republik Islam akan menargetkan pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah Timur Tengah, meski tidak menyerang wilayah negara AS. Pernyataan ini dilontarkan saat Araghchi berbicara dalam forum media internasional.
Pernyataan tersebut mempertegas posisi Iran bahwa apa pun bentuk konflik, respons akan fokus pada target militer AS di region, bukan wilayah negara lain di luar kawasan. Ini mencerminkan ketidakpercayaan Tehran terhadap tekanan militer dari Washington yang telah meningkat sejak awal tahun.
Reaksi dan Dampak di Kawasan
Kedua langkah — kunjungan negosiator ke kapal induk AS dan ancaman Iran — memiliki implikasi geopolitik yang signifikan. Kehadiran Abraham Lincoln dan kapal pendukungnya di Laut Arab merupakan bagian dari penempatan militer AS yang diperkuat di Timur Tengah, termasuk pengerahan jet tempur F-35 dan kapal perang lain, sebagai bentuk tekanan terhadap Tehran.
Insiden ini semakin memperuncing ketegangan setelah jet tempur AS menembak jatuh sebuah drone Iran yang mendekati USS Abraham Lincoln di area operasi. Tidak ada laporan korban, tetapi langkah ini menunjukkan kemampuan militer AS untuk merespons ancaman terhadap asetnya.
Upaya Diplomasi Tetap Berlanjut
Meski retorika keras dan mobilisasi militer meningkat, kedua pihak menunjukkan komitmen terhadap jalur diplomasi. Perundingan di Oman telah berlangsung sebagai upaya untuk membangun kembali kepercayaan dan menemukan jalan keluar atas perselisihan mengenai program nuklir serta keamanan regional.
Dukungan diplomatik juga datang dari negara ketiga, yang mencoba memfasilitasi pembicaraan lebih lanjut. Pemerintah Turki bahkan menawarkan bantuan sebagai mediator untuk mempertemukan kembali perwakilan AS dan Iran dalam percakapan lebih intensif dalam pekan ini.
Posisi Israel dan Peran Pemimpin Dunia
Sementara itu, dinamika geopolitik bertambah kompleks karena keterlibatan negara lain. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump di Washington untuk membahas negosiasi Iran. Netanyahu ingin memastikan setiap kesepakatan dengan Iran mencakup pembatasan program rudal balistik dan dukungan Tehran terhadap kelompok bersenjata di Timur Tengah.
Ini menunjukkan bahwa perundingan tidak hanya berfokus pada nuklir, tetapi juga pada keberlanjutan stabilitas kawasan dan keamanan sekutu Washington.

