Rumah Marga Tjhia di Singkawang: Warisan Arsitektur, Sejarah, dan Pariwisata yang Mempesona
Singkawang, Kalimantan Barat — Di tengah padatnya deretan ruko dan arus kehidupan modern Kota Singkawang, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan zaman serta warisan budaya yang tak lekang oleh waktu. Rumah Marga Tjhia bukan sekadar rumah kuno, melainkan sebuah ikon pariwisata yang membawa siapa pun yang berkunjung untuk menyelami sejarah, budaya, arsitektur, dan keindahan tradisi Tionghoa yang menyatu dengan pluralisme masyarakat Kalbar.
Bangunan Bersejarah yang Hidup di Tengah Kota
Bangunan yang kini dikenal sebagai Rumah Marga Tjhia ini dibangun pada tahun 1901–1902 oleh Tjhia Hiap Seng, seorang perantau yang berasal dari Fujian, Tiongkok. Struktur rumah ini masih berdiri megah lebih dari satu abad kemudian, menjadi saksi sejarah perkembangan ekonomi dan sosial di Singkawang sejak era kolonial hingga era modern Indonesia.
Sejak awal, Rumah Marga Tjhia memiliki ciri khas arsitektur Tionghoa yang kental, namun dilengkapi unsur-unsur gaya kolonial Eropa yang tercermin pada detail ukiran, material belian yang kuat, serta desain tata ruang yang memadukan fungsi hunian dan ruang representatif keluarga besar. Kompleks bangunan ini juga mengadopsi filosofi Siheyuan—sebuah konsep rumah tradisional Tiongkok yang mengelilingi halaman tengah, berfungsi sebagai pusat aktivitas keluarga sekaligus pengatur sirkulasi udara yang sejuk.
Cerita di Balik Pendirian Rumah
Kisah Rumah Marga Tjhia bermula dari perjalanan hidup Tjhia Hiap Seng (atau Chia Siu Xi), yang tiba di Singkawang setelah menempuh perjuangan panjang sebagai perantau dari desanya di Fujian. Ketika mendarat di Kalimantan Barat, ia menghadapi berbagai tantangan, termasuk hidup di tanah baru yang asing. Namun, kerja keras dan keuletannya menghasilkan keberhasilan dalam pertanian dan perdagangan. Ia kemudian mendirikan usaha yang menghasilkan ekspor komoditas lokal ke Singapura dan kawasan sekitarnya.
Keberhasilan Tjhia Hiap Seng menarik perhatian pemerintah kolonial Belanda di masa itu. Sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya terhadap kemajuan ekonomi lokal, tanah seluas ribuan meter persegi di pinggir Sungai Singkawang dihibahkan untuk membangun rumah besar keluarga ini. Di atas tanah inilah berdirilah Rumah Marga Tjhia yang kini menjadi destinasi wisata.
Menggali Kekayaan Budaya dan Arsitektur
Ketika melangkah memasuki kompleks rumah ini, pengunjung tak hanya melihat beton dan kayu tua, melainkan juga arsitektur yang kaya akan simbolisme budaya. Gaya bangunan Siheyuan ini memiliki struktur yang terbuka di tengah dan dikelilingi oleh bangunan bersejarah di setiap sisi.
Detail ukiran di ambang pintu, ornamen kayu yang rumit, dan ruang-ruang dengan ukuran serta fungsi berbeda, memperlihatkan bagaimana rumah ini dirancang untuk memfasilitasi kehidupan keluarga besar sekaligus menjadi markas kegiatan sosial dan komersial di masa lalu.
Material yang digunakan pun bukan sembarang bahan. Kayu belian di seluruh struktur utama dipilih karena kekuatannya yang luar biasa, meskipun bangunan sudah lebih dari seratus tahun umurnya, ia tetap kokoh berdiri melintasi musim dan zaman. Struktur pantek tanpa paku juga menjadi bukti keahlian teknik pengerjaan tradisional yang diwariskan generasi ke generasi.
Museum Hidup yang Menyimpan Kenangan dan Tradisi
Berbeda dengan museum konvensional, Rumah Marga Tjhia berfungsi sebagai ‘museum hidup’. Di dalamnya, kehidupan keluarga Tjhia masih berlangsung secara nyata. Lantai-lantai kayu, altar keluarga, foto-foto warisan, dan lorong yang tenang menjadi saksi bagaimana tradisi leluhur masih dirawat oleh keturunannya hingga kini.
Bagian tengah rumah sering dibuka untuk umum sebagai area santai, tempat pengunjung dapat memotret, duduk menikmati suasana klasik, atau sekadar mengagumi arsitektur masa lalu. Ruang-ruang ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman berbeda di luar sekadar bangunan tua.
Keunikan Kuliner yang Tak Terlewatkan
Selain aspek sejarah dan arsitektur, Rumah Marga Tjhia juga terkenal dengan kuliner tradisional khas Singkawang. Di kawasan ini, pengunjung dapat menikmati makanan lokal yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman ketika berkunjung ke Singkawang: choipan.
Choipan adalah sejenis pangsit khas Tionghoa yang sudah menjadi favorit wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Dengan kulit yang lembut, isi yang beragam seperti bengkuang, kucai, atau rebung, serta topping bawang goreng yang melimpah—choipan di tempat ini menawarkan rasa autentik yang tak mudah ditemukan di tempat lain.
Kuliner ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang pengalaman budaya: makanan yang dijual di dapur rumah ini memperkuat hubungan antara pengunjung dan sejarah Singkawang sebagai kota perpaduan budaya Melayu, Tionghoa, dan Dayak.
Daya Tarik untuk Wisatawan Internasional dan Lokal
Sejak ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Singkawang, Rumah Marga Tjhia terus menarik minat wisatawan dari berbagai daerah dan negara. Keunikan bangunannya, cerita sejarah yang kaya, serta aksen budaya yang kuat menjadikannya salah satu destinasi wajib ketika berkunjung ke Kalimantan Barat.
Lokasi rumah ini berada di kawasan tradisional Singkawang yang sekarang dilintasi jalan Budi Utomo. Menyusuri lorong kecil yang membawa pengunjung langsung ke bangunan ini menciptakan kesan tersendiri: seolah masuk ke lorong waktu yang membawa kilas balik masa lalu kota dagang yang dulu ramai dengan kapal-kapal dagang dan pedagang dari berbagai penjuru dunia.
Kontribusi terhadap Pariwisata dan Pelestarian Budaya
Pemerintah daerah, bersama dengan pengelola lokal termasuk keluarga Tjhia sendiri, terus melakukan upaya pelestarian terhadap bangunan ini agar nilai sejarahnya tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Rumah Marga Tjhia kini menjadi bagian tak terpisahkan dari promosi pariwisata Kota Singkawang, menarik pengunjung tidak hanya untuk melihat bangunan tua, tetapi juga untuk memahami makna pluralisme, toleransi, dan akulturasi budaya yang telah berlangsung ratusan tahun di Bumi Kalbar.

