Respons Amarah Jusuf Kalla ke ‘Termul’, PDIP Singgung Jejak Politik Jokowi
Jakarta – Polemik politik yang melibatkan Jusuf Kalla dan kelompok yang disebut “termul” memicu beragam respons, termasuk dari PDI Perjuangan. Partai tersebut menegaskan tidak memiliki keterkaitan langsung dengan polemik tersebut, namun tetap menyinggung perjalanan politik Joko Widodo.
Polemik ini bermula dari pernyataan keras Jusuf Kalla yang meluapkan kekesalannya terhadap pihak-pihak yang menyerangnya terkait isu ijazah Presiden Jokowi. Dalam pernyataannya, ia menyebut kelompok “termul” sebagai pihak yang memperkeruh suasana dan menyebarkan tudingan tidak berdasar.
Dalam nada tegas, Jusuf Kalla juga menyinggung peran pentingnya dalam perjalanan politik Jokowi. Ia mengklaim bahwa dirinya memiliki kontribusi besar dalam membawa Jokowi dari level daerah hingga menjadi Presiden. Pernyataan ini kemudian memicu perdebatan di ruang publik.
Menanggapi hal tersebut, politisi PDIP Guntur Romli menyatakan bahwa partainya telah “menutup buku” terhadap Jokowi. Ia juga mengungkap adanya dinamika politik yang dianggap sebagai bentuk pengkhianatan dalam perjalanan hubungan politik antara Jokowi dan partai tersebut.
Meski demikian, PDIP menegaskan bahwa konflik antara Jusuf Kalla dan kelompok “termul” bukan merupakan urusan internal partai. Pernyataan ini menunjukkan bahwa partai berlambang banteng tersebut berusaha menjaga jarak dari polemik yang berkembang.
Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira menegaskan bahwa persoalan tersebut sepenuhnya menjadi urusan pribadi antara Jusuf Kalla dan pihak yang bersangkutan. Ia bahkan menyindir pihak yang disebut sebagai “bos termul” agar bertanggung jawab atas tindakan kelompok tersebut.
Istilah “termul” sendiri merujuk pada sebutan yang populer di media sosial untuk kelompok pendukung Jokowi. Istilah ini kerap digunakan dalam perdebatan politik di ruang digital, terutama dalam konteks dukungan dan kritik terhadap Presiden.
Di tengah polemik ini, Jusuf Kalla menilai isu yang berkembang telah melebar dan menyeret banyak tokoh nasional tanpa dasar yang jelas. Ia menilai tudingan terhadap dirinya sebagai bentuk pengalihan isu yang tidak sehat bagi iklim politik.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi respons atas tuduhan yang menyebut dirinya terlibat dalam pendanaan isu ijazah palsu Jokowi. Jusuf Kalla dengan tegas membantah tudingan tersebut dan menyatakan tidak memiliki keterlibatan apa pun.
Di sisi lain, pernyataan PDIP yang menyinggung “jejak pengkhianatan” menunjukkan adanya dinamika hubungan politik yang kompleks antara partai dan Jokowi. Hal ini memperlihatkan bahwa konflik tidak hanya terjadi pada level individu, tetapi juga melibatkan persepsi politik yang lebih luas.
Pengamat menilai polemik ini mencerminkan meningkatnya tensi politik menjelang momentum penting nasional. Narasi yang berkembang di ruang publik juga menunjukkan kuatnya pengaruh media sosial dalam membentuk opini masyarakat.
Situasi ini menuntut semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan. Komunikasi politik yang tidak terkelola dengan baik berpotensi memperkeruh suasana dan memicu polarisasi di tengah masyarakat.
Hingga kini, polemik antara Jusuf Kalla, kelompok “termul”, dan respons dari PDIP masih menjadi perhatian publik. Masyarakat menantikan klarifikasi lebih lanjut dari para pihak terkait agar situasi tidak semakin berkembang menjadi konflik yang lebih luas.

