Berita NasionalPeristiwa

Kapolda Banten Pastikan Pelampung Temuan Bukan Milik Kapal Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda

PANDEGLANG – Upaya pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang saat melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau masih terus berlangsung. Di tengah operasi pencarian yang memasuki hari keempat, Kapolda Banten Irjen Pol Hengki memastikan bahwa pelampung yang ditemukan tim SAR di perairan Selat Sunda bukan berasal dari kapal yang membawa rombongan jurnalis tersebut.

Kepastian itu diperoleh setelah aparat melakukan identifikasi terhadap pelampung dan life jacket yang ditemukan dalam operasi pencarian beberapa hari terakhir. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa alat keselamatan tersebut tidak memiliki kesesuaian dengan perlengkapan yang berada di atas Kapal Arupadhatu 1, kapal yang hingga kini masih belum ditemukan.

Temuan ini sekaligus menjawab berbagai spekulasi yang berkembang di tengah masyarakat terkait kemungkinan adanya petunjuk baru mengenai keberadaan rombongan yang hilang kontak sejak awal pekan lalu.

Hasil Identifikasi Polisi dan Pemilik Kapal

Kapolda Banten menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap pelampung berwarna putih serta life jacket berwarna oranye yang ditemukan selama operasi pencarian. Berdasarkan hasil investigasi dan pencocokan dengan data kapal, benda-benda tersebut dipastikan bukan bagian dari perlengkapan keselamatan milik Kapal Arupadhatu 1.

Keterangan tersebut juga diperkuat oleh pemilik kapal, Sandi Wiyasa. Setelah dimintai keterangan oleh penyidik Polairud, ia menegaskan bahwa pelampung yang ditemukan tidak berasal dari kapal yang disewakan kepada rombongan jurnalis untuk meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Menurut Sandi, kapal yang digunakan dalam perjalanan tersebut telah dilengkapi berbagai alat keselamatan dengan jumlah memadai. Ia menyebut perlengkapan keselamatan di kapal wisata yang dikelolanya memiliki warna yang beragam dan jumlahnya lebih dari sepuluh unit. Karena itu, ia dapat memastikan bahwa benda yang ditemukan tim SAR tidak memiliki keterkaitan dengan kapalnya.

Pernyataan tersebut menjadi bagian penting dalam proses penyelidikan karena membantu mempersempit kemungkinan asal-usul barang yang ditemukan di area pencarian.

Operasi Pencarian Terus Diperluas

Meski pelampung yang ditemukan tidak berkaitan dengan kapal jurnalis, tim SAR gabungan tetap melanjutkan pencarian secara intensif. Basarnas bersama unsur TNI, Polri, dan instansi terkait terus menyisir sejumlah sektor di Selat Sunda yang diduga menjadi jalur pelayaran rombongan sebelum hilang kontak.

Pada hari keempat operasi pencarian, sedikitnya 13 kapal dikerahkan untuk memperluas area penyisiran. Armada tersebut terdiri atas berbagai unsur, mulai dari kapal perang TNI AL, kapal SAR, kapal kepolisian, hingga kapal pendukung lainnya.

Pengerahan armada dalam jumlah besar dilakukan karena luasnya wilayah pencarian dan kondisi geografis Selat Sunda yang cukup menantang. Arus laut yang kuat, gelombang tinggi, serta aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau menjadi faktor yang harus diperhitungkan oleh tim penyelamat.

Selain penyisiran laut, tim SAR juga melakukan pengamatan udara dan pemantauan menggunakan berbagai perangkat pendukung untuk meningkatkan peluang menemukan korban maupun kapal yang hilang.

Kronologi Hilangnya Rombongan Jurnalis

Rombongan jurnalis berangkat dari kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin, 7 September 2026. Mereka menggunakan kapal cepat Arupadhatu 1 untuk melakukan peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang saat itu tengah mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.

Dalam rombongan tersebut terdapat lima jurnalis foto dan tiga awak kapal. Para jurnalis berasal dari berbagai media nasional dan internasional yang sedang melakukan peliputan langsung mengenai perkembangan aktivitas gunung api tersebut.

Komunikasi terakhir dengan rombongan diketahui terjadi tidak lama setelah keberangkatan. Salah satu anggota sempat mengirimkan lokasi terakhir kepada rekannya sebelum seluruh komunikasi terputus. Sejak saat itu, tidak ada lagi kontak yang berhasil dilakukan dengan kapal maupun para penumpangnya.

Laporan hilang kontak kemudian memicu operasi pencarian besar-besaran yang melibatkan berbagai unsur pemerintah dan aparat keamanan.

Aktivitas Anak Krakatau Jadi Tantangan Pencarian

Operasi pencarian berlangsung di tengah kondisi Gunung Anak Krakatau yang masih aktif mengalami erupsi. Dalam beberapa hari terakhir, gunung api tersebut memuntahkan abu vulkanik dan material pijar yang berdampak terhadap aktivitas penerbangan maupun pelayaran di sekitar Selat Sunda.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sebelumnya menetapkan status aktivitas Anak Krakatau pada level siaga serta mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati area tertentu di sekitar kawah aktif.

Kondisi tersebut membuat tim SAR harus menjalankan operasi dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Keselamatan personel pencari menjadi prioritas utama mengingat ancaman erupsi susulan masih mungkin terjadi sewaktu-waktu.

Meski menghadapi berbagai kendala, aparat menegaskan bahwa pencarian tetap dilakukan secara maksimal sesuai prosedur yang berlaku.

Temuan Pelampung Sempat Memunculkan Harapan

Sebelum hasil identifikasi diumumkan, temuan pelampung dan life jacket sempat menimbulkan harapan baru bagi keluarga korban. Banyak pihak berharap benda tersebut dapat menjadi petunjuk mengenai keberadaan rombongan yang hilang.

Namun setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, aparat memastikan tidak ada hubungan antara benda tersebut dengan kapal Arupadhatu 1. Temuan itu akhirnya dianggap sebagai barang yang kemungkinan berasal dari aktivitas pelayaran lain di kawasan Selat Sunda.

Meski demikian, setiap benda yang ditemukan selama operasi tetap diperiksa secara detail. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada petunjuk yang terlewat dalam proses pencarian.

Tim SAR menegaskan bahwa semua informasi dan temuan lapangan akan dianalisis sebelum disimpulkan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Dukungan untuk Keluarga Korban

Peristiwa hilangnya rombongan jurnalis ini mendapat perhatian luas dari masyarakat dan komunitas media. Berbagai organisasi pers turut memberikan dukungan kepada keluarga korban dan berharap seluruh anggota rombongan dapat segera ditemukan.

Sejumlah media tempat para jurnalis bekerja juga terus memantau perkembangan pencarian. Doa bersama dan berbagai bentuk solidaritas digelar sebagai bentuk dukungan moral bagi keluarga yang masih menunggu kabar.

Insiden ini juga menjadi pengingat akan tingginya risiko yang dihadapi jurnalis ketika menjalankan tugas peliputan di lokasi bencana atau wilayah berbahaya. Keberanian mereka untuk menghadirkan informasi kepada publik sering kali dibarengi dengan ancaman keselamatan yang tidak kecil.

Harapan Pencarian Berakhir dengan Kabar Baik

Hingga saat ini, pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga awak kapal masih terus dilakukan. Aparat belum menghentikan operasi dan terus mengevaluasi berbagai kemungkinan berdasarkan perkembangan situasi di lapangan.

Kapolda Banten menegaskan bahwa seluruh unsur yang terlibat tetap berkomitmen melakukan pencarian secara maksimal. Meskipun temuan pelampung tidak berkaitan dengan kapal yang hilang, operasi akan terus dilanjutkan dengan cakupan wilayah yang lebih luas.

Keluarga korban dan masyarakat kini berharap upaya pencarian dapat segera membuahkan hasil. Di tengah ketidakpastian yang masih menyelimuti kasus ini, harapan untuk menemukan rombongan yang hilang tetap menjadi semangat utama bagi seluruh tim penyelamat yang bekerja tanpa henti di perairan Selat Sunda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *