Kemenag Siapkan Sidang Isbat 1 Ramadan 1447 H, BMKG Amati Hilal di 37 Titik Seluruh Indonesia
Jakarta, 16 Februari 2026 – Kementerian Agama (Kemenag) mengumumkan akan menggelar Sidang Isbat Penetapan 1 Ramadan 1447 Hijriah / Ramadan 2026 Masehi pada Selasa, 17 Februari 2026. Sidang ini menjadi momen penting bagi umat Islam di Indonesia karena akan menentukan tanggal resmi dimulainya puasa Ramadan di seluruh Tanah Air.
Dalam penyampaian informasi tersebut, Kemenag menjelaskan bahwa Sidang Isbat akan dilakukan secara terbuka dan dipimpin langsung oleh Menteri Agama beserta unsur pimpinan ormas Islam serta tokoh agama. Keputusan sidang nantinya akan diumumkan di hadapan publik dan menjadi dasar resmi kalender ibadah Ramadan bagi umat Muslim di Indonesia.
Sidang Isbat Ramadan: Apa Itu dan Mengapa Penting?
Sidang Isbat merupakan forum resmi yang diselenggarakan oleh Kemenag sebagai bagian dari tata cara penetapan awal bulan dalam kalender Islam. Keputusan sidang ini sangat dinantikan oleh umat Islam, karena menentukan awal Ramadan, seperempat ibadah puasa paling penting dalam ajaran Islam selama sebulan penuh dari subuh hingga maghrib.
Dalam Islam, awal Ramadan dapat ditetapkan berdasarkan rukyatul hilal (melihat bulan sabit) atau hisab (perhitungan astronomi), yang kemudian disesuaikan dengan kajian fikih dan kriteria syariat. Di Indonesia, Sidang Isbat menggabungkan data rukyat hilal dari lapangan dan hasil hisab astronomi untuk menentukan keputusan yang paling sesuai dengan syariat Islam dan kondisi geografis wilayah Indonesia.
BMKG Amati Hilal di 37 Titik Seluruh Indonesia
Untuk mendukung proses Sidang Isbat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menyiapkan tim pemantau untuk melihat hilal (bulan sabit awal bulan) pada Selasa sore hingga malam hari di lokasi-lokasi yang telah ditentukan. Total ada 37 titik pengamatan hilal yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.
BMKG akan melakukan pemantauan hilal secara langsung dengan dukungan alat bantu astronomi serta peralatan cuaca seperti teleskop dan kamera khusus untuk mendeteksi hilal. Selain itu, BMKG juga akan mengumpulkan data astronomis seperti posisi hilal, ketinggian bulan di atas ufuk, elongasi, serta faktor meteorologis lain yang memengaruhi visibilitas bulan sabit.
Titik Lokasi Pengamatan Hilal oleh BMKG
Pengamatan hilal akan dilakukan di sejumlah wilayah strategis Indonesia, antara lain:
- Pulau Sumatera: Aceh, Medan (Sumatera Utara), Padang (Sumatera Barat)
- Kalimantan: Pontianak (Kalimantan Barat), Banjarmasin (Kalimantan Selatan)
- Sulawesi: Makassar (Sulawesi Selatan), Manado (Sulawesi Utara)
- Nusa Tenggara: Mataram (NTB), Kupang (NTT)
- Papua: Jayapura
- Jawa: Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya
(Asumsi lokasi di atas mewakili titik penting dari total 37 lokasi yang tersebar di seluruh provinsi.)
Setiap titik pengamatan akan diwakili oleh tim BMKG serta relawan atau unsur pemerintahan setempat, yang bertugas mencatat hasil pengamatan hilal pada saat matahari terbenam dan malam hari. Data ini kemudian akan disampaikan kepada panitia Sidang Isbat sebagai bahan kajian utama dalam penetapan awal Ramadan.
Peran Stakeholder dalam Sidang Isbat
Sidang Isbat Ramadan bukan hanya sekadar pertemuan administratif, tetapi juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan penting, di antaranya:
📌 Menteri Agama
Menteri Agama menjadi ketua Sidang Isbat dan bertugas memimpin forum serta mengambil keputusan berdasarkan masukan dari tim rukyat dan hisab, ulama, serta ormas Islam.
Ormas Islam
Ormas Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, serta organisasi Muslim lainnya diundang untuk memberikan masukan terkait data hilal dan penafsiran keagamaan. Kehadiran mereka menjadi aspek penting agar keputusan Sidang Isbat dapat diterima secara luas oleh seluruh umat Islam di Indonesia.
BMKG dan Lembaga Astronomi
BMKG, bersama lembaga astronomi lainnya, menyediakan data ilmiah dan laporan hasil pengamatan hilal yang menjadi salah satu pondasi utama dalam sidang. Tim ahli akan memberikan penjelasan teknis mengenai visibilitas hilal dan faktor astronomis yang memengaruhi keputusan Sidang Isbat Ramadan.
Para Ulama dan Tokoh Agama
Selain data dan informasi ilmiah, Sidang Isbat juga mempertimbangkan pandangan para ulama dan tokoh agama terkait aspek syariat dalam penentuan awal puasa Ramadan.
Prediksi dan Kriteria Penetapan Awal Ramadan
Berdasarkan perhitungan astronomi, banyak lembaga internasional dan ahli hisab mengindikasikan bahwa hilal pada periode Rabu, 18 Februari 2026 (29 Sya’ban 1447 H) berpotensi terlihat di sejumlah wilayah Indonesia, tergantung pada kondisi cuaca dan faktor visibilitas. Jika hilal berhasil diamati pada malam itu, maka awal Ramadan diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Namun jika hilal tidak tampak karena faktor cuaca buruk atau letak astronomis yang kurang mendukung, maka bulan Sya’ban akan dianggap 30 hari, dan awal Ramadan bisa dimulai pada Jumat, 20 Februari 2026. Keputusan ini menjadi tugas utama Sidang Isbat dan diputuskan pada Selasa sore setelah pengamatan hilal.
Pentingnya Penetapan yang Seragam
Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia. Penetapan awal Ramadan secara tepat dan seragam di seluruh Indonesia menjadi sangat penting agar umat Islam dapat menyelenggarakan ibadah puasa secara bersama-sama. Keputusan yang disampaikan Kemenag berdasarkan Sidang Isbat diharapkan menjadi rujukan untuk seluruh daerah di Nusantara.
Difusi keputusan ini kepada pemerintah daerah dan kantor kementerian agama di kabupaten/kota akan dijalankan begitu sidang selesai, sehingga jadwal ibadah puasa, sahur, dan buka puasa (iftar) dapat dilaksanakan secara sinkron.
Reaksi Umat dan Tokoh Agama
Beberapa tokoh agama menyambut baik jadwal Sidang Isbat yang telah ditetapkan Kemenag. Mereka menilai bahwa proses ini penting untuk menjaga kekompakan nasional umat Islam dalam menjalankan ibadah Ramadan. “Sidang Isbat adalah tradisi nasional yang telah berjalan sejak lama. Keputusan yang dihasilkan bukan hanya soal tanggal, tetapi juga soal kebersamaan umat Islam,” ujar salah satu ulama besar di Jakarta.
Sementara itu, organisasi seperti Muhammadiyah dan ormas Islam lainnya juga mempersiapkan timnya untuk memberikan dukungan teknis serta laporan hilal yang mungkin berbeda di beberapa titik pengamatan, guna memastikan bahwa keputusan yang diambil tetap adil dan sesuai syariat.
Perbandingan dengan Negara Muslim Lain
Indonesia bukan satu-satunya negara yang menggelar sidang isbat atau sidang hilal untuk menentukan awal Ramadan. Di banyak negara Muslim seperti Turki, Mesir, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, otoritas agama dan astronomi juga melakukan pengamatan hilal serta perhitungan astronomi menjelang Ramadan.
Namun, setiap negara memiliki kriteria yang bisa sedikit berbeda berdasarkan Interpretasi syariat masing-masing serta tradisi lokal. Sebagai contoh, negara-negara di Timur Tengah sering menggunakan panduan astronomi global serta hilal yang tampak di kawasan mereka, sementara Indonesia menggabungkan hasil rukyat lokal dan hisab dalam Sidang Isbat.
Persiapan Umat Muslim Menyambut Ramadan
Menjelang keputusan resmi Sidang Isbat, masyarakat telah mulai melakukan persiapan spiritual dan logistik menyambut bulan suci Ramadan, termasuk meningkatkan ibadah sunnah, bersih-bersih rumah dan masjid, serta memperkuat persiapan keluarga dalam menjalankan ibadah puasa.
Selain itu, pedagang Muslim juga mulai mengatur stok makanan dan kebutuhan pokok untuk menyambut permintaan pasar yang meningkat selama Ramadan. Pemerintah daerah pun memberikan informasi jadwal ibadah dan aturan sosial yang berkaitan dengan Ramadan kepada warganya.
Kesimpulan
Kementerian Agama akan menggelar Sidang Isbat Penetapan 1 Ramadan 1447 H / 2026 pada 17 Februari 2026, dengan dukungan pengamatan hilal oleh BMKG di 37 titik seluruh Indonesia. Proses ini penting untuk menentukan tanggal resmi dimulainya ibadah puasa Ramadan secara seragam di seluruh wilayah Nusantara.
Dengan dukungan ilmiah dari BMKG, masukan ulama dan ormas Islam, serta pertimbangan hisab dan rukyat hilal, keputusan Sidang Isbat diharapkan mampu memberikan kepastian kepada umat Islam di Indonesia untuk menyambut bulan suci Ramadan dengan penuh kekompakan dan semangat ibadah.

