Lonjakan Suspek Campak di Indonesia pada Januari 2026 Capai Tiga Kali Lipat dibanding Tahun Sebelumnya
Jakarta — Kasus penyakit campak di Indonesia kembali menjadi sorotan publik setelah data terbaru menunjukkan lonjakan drastis kasus suspek pada Januari 2026, mencapai lebih dari tiga kali lipat jika dibandingkan tiga tahun terakhir. Tren ini memicu perhatian aparat kesehatan, terutama di tengah kejadian luar biasa (KLB) yang masih berlangsung di sejumlah wilayah di Tanah Air.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat bahwa sejak awal tahun hingga minggu ketujuh 2026, jumlah suspek campak sudah mencapai 8.224 kasus — jauh lebih tinggi dibandingkan Januari pada tahun sebelumnya. Dari jumlah itu, 572 kasus telah dikonfirmasi secara laboratorium, sementara empat orang dilaporkan meninggal dunia akibat campak.
Perbandingan Tahun ke Tahun yang Mengkhawatirkan
Menurut data grafik resmi yang dirilis Kemenkes, terdapat peningkatan signifikan pada periode Januari sejak 2024 hingga awal 2026:
- Januari 2024: sekitar 2.000 suspek kasus
- Januari 2025: sekitar 5.000 suspek kasus
- Januari 2026: lebih dari 7.000 suspek kasus
Perbandingan ini menggambarkan tren yang tidak hanya fluktuatif tetapi meningkatnya risiko penularan, terutama di awal tahun di mana mobilitas masyarakat meningkat pasca periode liburan panjang.
Pelaksana Tugas Dirjen Penanggulangan Penyakit, Andi Saguni, menekankan bahwa kenaikan ini tidak menunjukkan sebuah pola musiman biasa, tetapi perlu diwaspadai karena jika tidak ditangani secara cepat, dapat berdampak pada penyebaran yang lebih luas. Ia juga menyoroti bahwa meski angka kematian atau case fatality rate (CFR) relatif rendah — sekitar 0,1 persen — tetap tidak bisa dianggap enteng karena campak merupakan penyakit yang sangat menular.
Distribusi Kejadian Luar Biasa (KLB)
Hingga minggu ke-7 tahun ini, Kemenkes telah mencatat 21 kejadian luar biasa (KLB) di 17 kabupaten/kota yang tersebar di 11 provinsi. Dari jumlah tersebut, 13 KLB sudah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium di sembilan kabupaten/kota di enam provinsi.
Provinsi-provinsi dengan jumlah KLB paling banyak di awal 2026 antara lain:
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
- DI Yogyakarta
- Sumatera Barat
- Sumatera Selatan
KLB campak sendiri didefinisikan sebagai kejadian berkumpulnya dua atau lebih kasus yang saling berhubungan secara epidemiologis di suatu wilayah dalam waktu yang singkat. Kejadian ini seringkali menandai berjalannya transmisi aktif di komunitas setempat.
Peringatan Kemenkes dan Tanggapan Dini
Merespons lonjakan kasus ini, Kemenkes melalui Andi Saguni menyatakan perlunya peningkatan kewaspadaan dan penanganan cepat untuk mencegah penularan meluas. Ia menyebutkan bahwa angka suspek di bulan Februari 2026 — hingga 23 Februari — masih relatif lebih rendah, dengan 1.164 kasus, namun tren kenaikan di bulan Januari tetap menjadi perhatian serius.
Selain itu, pemberitahuan dari otoritas kesehatan Australia mengenai kasus campak impor yang terkait perjalanan dari Indonesia pada awal tahun ini turut memicu penguatan surveilans penyakit menular oleh pihak berwenang. Kemenkes segera memperketat pemantauan kasus dan memperluas imunisasi atau vaksinasi di daerah-daerah yang memiliki temuan kasus tinggi.
Analisis Epidemiologi: Faktor Pemicu dan Risiko
Para ahli epidemiologi menyatakan bahwa sejumlah faktor dapat berkontribusi pada peningkatan kasus campak, antara lain:
- Kekurangan cakupan imunisasi: Indonesia sempat mengalami penurunan cakupan vaksinasi dasar akibat gangguan layanan kesehatan selama pandemi COVID-19, yang menyebabkan kelompok anak rentan tidak menerima vaksin lengkap.
- Mobilitas masyarakat yang tinggi: Perpindahan penduduk antar daerah selama liburan atau kegiatan sosial meningkatkan risiko penularan virus.
- Kesadaran dan informasi vaksin: Masih terdapat tantangan pemahaman masyarakat tentang pentingnya imunisasi lengkap, termasuk vaksin campak (measles) yang terbukti aman dan efektif dalam mencegah penyakit.
WHO juga menegaskan bahwa campak tetap menjadi penyakit yang sangat menular dan bisa dicegah dengan imunisasi. Gejala biasanya dimulai dengan demam yang diikuti oleh ruam merah pada kulit, batuk, pilek, dan mata merah berair — yang bila tidak ditangani bisa berkembang menjadi komplikasi serius seperti radang paru-paru atau infeksi telinga.
Pencegahan dan Rekomendasi Kemenkes
Untuk mengurangi penyebaran campak dan kemungkinan kejadian KLB di masa depan, Kemenkes menggarisbawahi langkah-langkah berikut:
- Meningkatkan cakupan imunisasi dasar lengkap di seluruh wilayah.
- Menjalankan imunisasi lanjutan untuk kelompok anak usia sekolah atau berisiko.
- Memperkuat sistem surveilans penyakit di fasilitas kesehatan di tingkat puskesmas dan rumah sakit.
- Edukasi masyarakat tentang gejala dini dan pentingnya vaksinasi.
Komitmen ini dinilai krusial untuk menurunkan kasus dan mencegah lonjakan yang lebih besar di kemudian hari. Pemerintah juga terus mengingatkan warga untuk segera membawa anak yang menunjukkan gejala campak ke fasilitas kesehatan terdekat untuk penanganan cepat dan mencegah penularan ke orang lain.

