Parkinson Tak Hanya Mengintai Lansia, Dokter RSI Unisma Ungkap Faktor Risiko dan Upaya Pencegahan
Parkinson Tak Hanya Mengintai Lansia
Penyakit Parkinson tak hanya mengintai lansia, tetapi juga bisa menyerang kelompok usia yang lebih muda jika memiliki faktor risiko tertentu. Dokter di Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma Malang mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap penyakit saraf degeneratif tersebut dan memahami langkah pencegahannya sejak dini.
Penyakit Parkinson merupakan gangguan neurodegeneratif yang menyebabkan penurunan fungsi saraf secara bertahap. Kondisi ini biasanya ditandai dengan gejala seperti tremor atau tangan bergetar, gerakan tubuh melambat, serta kekakuan otot.
Menurut dokter dari RSI Unisma Malang, masyarakat sering menganggap Parkinson hanya menyerang orang lanjut usia. Padahal, meski usia menjadi faktor risiko utama, penyakit ini juga dapat muncul pada usia yang lebih muda karena faktor genetik, lingkungan, dan gaya hidup.
Karena itu, edukasi mengenai faktor risiko dan pencegahan menjadi penting agar masyarakat dapat mengurangi kemungkinan terkena penyakit tersebut.
Apa Itu Penyakit Parkinson?
Penyakit Parkinson terjadi ketika sel saraf di otak yang memproduksi dopamin mengalami kerusakan atau kematian. Dopamin merupakan zat kimia yang berperan penting dalam mengontrol gerakan tubuh.
Ketika produksi dopamin menurun, koordinasi gerakan tubuh menjadi terganggu sehingga muncul berbagai gejala seperti tremor, gerakan melambat (bradikinesia), hingga gangguan keseimbangan.
Secara global, penyakit ini banyak ditemukan pada kelompok usia lanjut. Sekitar 3 persen orang berusia di atas 65 tahun mengalami Parkinson dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.
Namun dalam beberapa kasus, Parkinson juga dapat terjadi pada usia produktif yang dikenal sebagai early-onset Parkinson.
Faktor Risiko Parkinson yang Perlu Diwaspadai
1. Faktor Usia
Usia merupakan faktor risiko terbesar dalam perkembangan Parkinson. Semakin bertambah usia seseorang, risiko mengalami penyakit ini juga meningkat.
Proses penuaan membuat sel saraf lebih rentan mengalami kerusakan sehingga memicu gangguan pada sistem saraf.
2. Faktor Genetik
Faktor genetik juga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena Parkinson. Sekitar 15 hingga 25 persen pasien Parkinson memiliki riwayat keluarga dengan penyakit yang sama.
Mutasi pada beberapa gen tertentu dapat memengaruhi fungsi sel saraf yang berperan dalam produksi dopamin.
3. Faktor Lingkungan
Paparan bahan kimia berbahaya juga dapat meningkatkan risiko Parkinson. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan pestisida, logam berat, dan polusi udara berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit tersebut.
Paparan jangka panjang terhadap zat beracun dapat merusak sel saraf di otak dan memicu perkembangan penyakit degeneratif.
4. Gaya Hidup
Gaya hidup yang tidak sehat juga berperan dalam meningkatkan risiko Parkinson. Kurangnya aktivitas fisik, pola makan tidak seimbang, serta paparan zat berbahaya dapat mempercepat kerusakan sel saraf.
Sebaliknya, aktivitas fisik yang rutin dapat membantu menurunkan risiko penyakit ini.
Olahraga terbukti mampu menjaga kesehatan otak dan meningkatkan fungsi sistem saraf.
Gejala Parkinson yang Sering Muncul
Gejala Parkinson biasanya berkembang secara perlahan dan sering kali tidak disadari pada tahap awal.
Beberapa gejala yang umum muncul antara lain:
- Tremor atau getaran pada tangan
- Gerakan tubuh melambat
- Kekakuan otot
- Gangguan keseimbangan
- Perubahan ekspresi wajah
Pada tahap awal, gejala mungkin hanya muncul pada satu sisi tubuh. Namun seiring perkembangan penyakit, gejala dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya.
Selain gejala motorik, penderita Parkinson juga dapat mengalami gejala nonmotorik seperti gangguan tidur, depresi, dan penurunan kemampuan kognitif.
Upaya Pencegahan Penyakit Parkinson
Dokter dari RSI Unisma Malang menekankan bahwa meskipun Parkinson tidak selalu dapat dicegah sepenuhnya, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko penyakit tersebut.
1. Rutin Berolahraga
Aktivitas fisik secara teratur dapat membantu menjaga kesehatan otak dan memperlambat proses degenerasi saraf.
Penelitian menunjukkan bahwa olahraga dengan intensitas sedang hingga tinggi dapat menurunkan risiko Parkinson.
2. Pola Makan Sehat
Pola makan yang kaya buah, sayur, biji-bijian, dan ikan dapat membantu melindungi kesehatan otak.
Sebaliknya, konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan makanan olahan dapat meningkatkan risiko gangguan saraf.
3. Menghindari Paparan Zat Berbahaya
Mengurangi paparan pestisida, logam berat, dan bahan kimia berbahaya dapat membantu menurunkan risiko Parkinson.
Organisasi kesehatan global juga merekomendasikan langkah ini sebagai bagian dari pencegahan penyakit saraf degeneratif.
4. Pemeriksaan Kesehatan Secara Berkala
Deteksi dini sangat penting untuk mencegah perkembangan penyakit menjadi lebih parah.
Jika seseorang mengalami gejala seperti tremor atau kesulitan mengontrol gerakan tubuh, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.
Pentingnya Edukasi Masyarakat
Dokter RSI Unisma Malang menilai bahwa edukasi masyarakat mengenai Parkinson masih perlu ditingkatkan.
Banyak orang yang baru menyadari penyakit ini ketika gejala sudah cukup berat. Padahal, pemahaman tentang faktor risiko dapat membantu masyarakat melakukan pencegahan sejak dini.
Kesadaran terhadap penyakit saraf degeneratif juga penting karena jumlah penderita Parkinson di dunia diperkirakan terus meningkat seiring bertambahnya populasi lansia.
Dengan gaya hidup sehat, pemeriksaan rutin, dan penghindaran faktor risiko, masyarakat dapat mengurangi kemungkinan terkena penyakit Parkinson di masa depan.

